Ramadhan dan Covid-19 : Pertaubatan Ekologis

0
46

Beberapa tahun belakangan, isu-isu lingkungan menjadi salah satu topik yang hangat diperbincangkan di seluruh dunia. Biasanya, isu mengenai lingkungan jarang dimunculkan dan hanya dibahas ketika terjadi peristiwa bencana alam yang membawa dampak negatif bagi masyarakat. Fenomena banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, hingga isu soal pemanasan global yang dari hari ke hari menunjukkan data yang semakin mengkhawatirkan membuat warga dunia kini mulai sadar akan pentingnya memperhatikan isu-isu lingkungan kontemporer.

Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan oleh jurnal Nature Climate Change pada tahun 2018, para peneliti memaparkan potensi hilangnya nyawa manusia sebanyak 150 juta korban akibat polusi dan wabah serta kerugian sebesar $150 triliun jika perubahan iklim terus terjadi. Dari gambaran data singkat di atas kita dapat mengetahui bahwa potensi negatif dari kerusakan lingkungan sangatlah besar, tidak hanya bagi lingkungan secara langsung tapi bagi nyawa manusia itu sendiri. Berbagai macam dampak negatif ini digambarkan dengan sangat baik oleh David Wallace-Wells dalam bukunya The Uninhabitable Earth. Rasanya tidak berlebihan jika kita membayangkan apa yang ditulis Wells dalam bukunya akan benar-benar terjadi, di masa depan bumi tidak akan dapat dihuni lagi karena kerusakan lingkungan yang sudah sedemikian parahnya.

Berbagai macam kerusakan yang terjadi saat ini tidak hanya disebabkan oleh sebab-sebab alamiah dari aktivitas alam secara natural, melainkan lebih banyak disebabkan oleh aktivitas industrial dan kegiatan manusia. Akar dari berbagai macam krisis lingkungan yang saat ini terjadi salah satu sebabnya diakibatkan oleh pandangan aliran filsafat modern yang disebut sebagai antroposentrisme. Antroposentrisme adalah suatu bentuk kesadaran yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki kedudukan tertinggi dan menjadi pusat dari seluruh kehidupan di alam semesta. Kesadaran ini pada akhirnya melahirkan pola perilaku manusia yang menempatkan keberadaan lain di luarnya, termasuk alam, sebagai objek yang dapat dieksploitasi secara bebas tanpa batas demi memuaskan hasrat pribadi untuk mengejar keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya

Pandangan ini secara fundamental, sangat bertentangan dengan fungsi manusia yang mengemban peran sebagai khalifah Allah di bumi (khalifatullah fil ardh). Sebagai makhluk yang menerima mandat untuk menjadi wakil Tuhan, manusia memiki tanggung jawab untuk membawa kemakmuran dan kemaslahatan di muka bumi. Seorang mahaguru sufi, Ibnu Arabi memiliki konsep yang menarik dalam menjelaskan posisi manusia dalam alam semesta ini. Bagi Ibnu Arabi, manusia adalah sebuah dunia kecil (mikrokosmos) dan alam semesta adalah dunia besar (makrokosmos). Keduanya memiliki hubungan timbal balik yang bersifat lahir dan batin secara harmoni. Alam tidaklah dipandang sebagai sebatas objek yang dapat dieksploitasi seenaknya, tetapi alam juga diposisikan sebagai subjek yang memiliki kedudukan sakral dan sejajar dengan manusia. Manusia hanyalah salah satu bagian dari alam semesta yang begitu luas dan tidak memiliki posisi yang sentral dan unik dalam jagad raya ini.

Pandangan demikian menuntut agama sebagai sumber moral dan etika manusia untuk turut serta dalam memberikan pandangan terkait pencegahan dan solusi untuk memecahkan problematika lingkungan yang terjadi saat ini. Kesadaran akan pentingnya agama untuk berperan dalam menjawab permasalahan lingkungan ini dapat dilihat dalam perkembangan ilmu fiqih, di mana terdapat perluasan dalam konsep tujuan pelaksanaan syariat (maqashid syari’ah) yang mengatur lima aspek yang dilindungi dalam penerapan syariat , yaitu jiwa, agama, akal, harta, dan keturunan. Fenomena krisis lingkungan yang saat ini terjadi sangatlah mungkin berpotensi untuk mengganggu kelima hal pokok tadi, oleh karena itu merumuskan dan mengembangkan fiqih lingkungan (fiqh al-bi’ah) merupakan hal mendesak yang penting sebagai solusi praktis terhadap permasalahan polusi dan ekspolitasi alam untuk diterapkan dan berfungsi untuk menjaga harmoni hubungan antara alam dan manusia.

Berbagai macam bencana alam dan wabah yang saat ini terjadi saat ini adalah cara alam untuk berbicara dengan manusia. Banjir yang terjadi menyiratkan pesan bahwa daerah resapan air kini telah berkurang. Lewat kebakaran lahan, alam ingin bercerita bahwa perambahan hutan secara liar telah melewati batasnya. Tanah longsor dan terkontaminasinya sumber-sumber air adalah rintihan alam atas aktivitas ekspolitasi tambang-tambang yang sedemikian masif dan merusak.

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” – Surah Ar-Rum (30) : 41

Suara-suara alam ini merupakan suatu bentuk peringatan dari Allah SWT akibat perbuatan-perbuatan manusia yang mengekploitasi alam tanpa batas dan tidak merawatnya seperti perintah-Nya. Krisis yang sudah berlangsung sedemikian parahnya menuntut manusia untuk kembali merefleksikan perbuatannya selama ini. Kepentingan ekonomi atau industri tidaklah lebih utama dari kepentingan untuk menjaga kelestarian alam dan nyawa manusia. Praktik-praktik atas sistem eksploitasi yang menghisap kekayaan alam untuk kepentingan segelintir elit adalah hal-hal yang perlu kita lawan dan cegah.

Isolasi dan karantina yang saat ini kita lakukan di rumah merupakan fase transisi sebelum memasuki dunia pascawabah corona. Manusia dipaksa untuk membatasi aktivitas sehari-harinya dengan bekerja dari rumah. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) kini menunjukkan angka hijau dengan berkurangnya polusi di kota-kota. Jalan-jalan kini menjadi lengang dan sampah-sampah tidak bertumpuk dan berserakan. Pabrik-pabrik industri kini memproduksi limbah lebih sedikit dari biasanya.

Ramadhan yang kita lalui pada tahun ini di rumah masing-masing hendaknya dapat menjadi latihan jihad akbar kita untuk melawan hawa nafsu dan dorongan untuk melakukan perbuatan destruktif terhadap alam. Sehingga ketika kita memasuki fase new normal esok, kita semua menjadi manusia yang sadar akan fungsinya sebagai khalifah dengan merawat dan menjaga lingkungan sebaik-baiknya.

Bumi ini cukup besar untuk mencukupi kebutuhan semua orang. Tetapi ia tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan  satu orang yang serakah.” – Mahatma Gandhi

 

Wa fawqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim

Wallahu’alam bish-Showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here