Pesantren di Tengah Arus Revolusi Informasi

0
115

NOTULA KEGIATAN

RAMADHAN DI KAMPUS UNIVERSITAS GADJAH MADA 1440 H

Nama Kegiatan Tema Pembicara Hari, Tanggal Tempat Waktu Penulis Notula
Kajian Buka Bersama #7 Pesantren di Tengah Arus Revolusi Informasi KH. Hasan Abdullah Sahal Minggu, 12 Mei 2019 Ruang Utama Masjid Kampus UGM 16.10 s.d. 17.22 Kamila Munna

Materi

Santri, Kyai, tidak memerlukan informasi. Sebab, informasi datang sendiri dari televisi, surat kabar, dan orang-orang sekitar. Sayangnya, informasi tersebut seringkali mengandung hoax. Keadaan saat ini, yang terjadi bukanlah revolusi informasi, tetapi revolusi kebohongan atau “kibulisasi revormation”. Sumber informasi pesantren dari Al Quran, Hadits, dan masyarakat yang tidak pernah berbohong. Informasi yang sudah diubah-ubah, bukan lagi informasi, melainkan bisnis. Halal haramnya kurang jelas.

Apa yang terjadi di dunia ini hanya pengulangan-pengulangan, dari Nabi Adam as., Nabi Musa as., sampai sekarang. Saat ini banyak “Dajjal ucul”, yaitu Dajjal yang turun sebelum waktunya. Dajjal merupakan makhluk yang turun di hari kiamat kelak. Kaitannya dengan periwayatan hadist, perawi yang menipu juga disebut Dajjal. Jadi, “Dajjal ucul” yang muncul saat ini adalah manusia-manusia penipu.

Pesantren merupakan sumber informasi karena Kyai dan santri tidak pernah berbohong. Sesungguhnya jujur membawa pada kebajiakan, sedangkan kebohongan membawa pada kejahatan. Kita lebih baik membuat revolusi informasi sendiri dengan menghidupkan informasi yang benar dari sumber-sumber yang benar, yaitu Al Quran dan hadits. Kedua sumber kebenaran tersebut mengandung semua informasi, bahkan yang terjadi sekarang.

Untuk mengetahui apakah suatu informasi itu benar atau tidak, pakailah nurani, tak hanya mata, telinga, mulut, dan otak. Manusia tanpa nurani bukanlah manusia sempurna, kata lainnya, “agak manusia.” Kini, yang ilmiah saja dapat diperjualbellikan. Ilmiah yang diambil dari Barat, Timur, Utara, Selatan, yang dari Islam malah tidak dipakai. Kalau mau tahu ilmiah atau tidak, pakai nurani. Jangan mudah percaya.

Sejak zaman Nabi Adam as., manusia terkecoh karena kesombongannya (sifat iblis) yang berulang sampai sekarang. Dikarenakan sombong, iri, dan dengki, manusia sampai melakukan aksi saling membunuh. Sapi dan kucing yang bertengkar saja tak sampai membunuh. Namun, manusia berebut harta, tahta, wanita, hingga senjata yang mengakibatkan saling bunuh.

Informasi harus diteliti dengan baik. Jika ada pesantren, ulama, kyai, atau tokoh berbohong, maka itu adalah awal bencana. Ambillah dan jadilah sumber informasi yang benar dengan nurani. Kebanyakan orang saat ini saat ini banyak orang takut miskin dan popularitasnya turun. Sampai agama, jati diri, identitas, pesantren, dan iman dijual.

Satu kebenaran itu harus disuarakan, dimunculkan, serta disampaikan, walaupun ada 99 di antaranya adalah kesalahan. Manusia sekarang kebanyakan adalah binatang-binatang modern. Mereka meninggalkan kemanusiaannya. Banyak manusia jadi budak karema perut, kebutuhan. Kata Ali bin Abi Thalib r.a., “Barang siapa yang memikirkan isi perutnya, maka harga dirinya tidak lebih dari apa yang keluar dari perutnya.”

Jadi, manusia yang sempurna, pakai nurani, bukan binatang modern. Bersyukurlah menemui Ramadhan. Banyaklah bertaubat.

Ringkasan jawaban dari pertanyaan dari diskusi.

Dalam kacau balau perpolitikkan, Indonesia tak punya apa-apa. Semuanya jadi politik. Ekonomi jadi politik, sepak bola jadi politik. Menjawab adzan pun politik dengan syaitan. Kalau mati karena Laa ilaaha illallah, namanya mati syahid. Politik itu suci, netral, wajib, dan merupakan kebutuhan manusia. Politik bukan kedudukan, kekuatan, kekuasaan, itu binatang-binatang modern. Tentnag pembelaan kebenaran, tidak ada yang namanya mayoritas itu benar dan minoritas itu salah. Kebenaran tidak butuh pembenaran dan tidak butuh dukungan.

Kita perlu bertaubat, beristighfar banyak-banyak. Dunia masih bisa baik dan masih ada kesempatan setiap diri untuk menjadi baik. Mari mendirikan rumah sakit dalam diri masing-masing, yaitu Rumah Sakit Iman.

Unduh versi pdf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here