Paradigma Profetik

0
82

NOTULA

RAMADHAN DI KAMPUS UNIVERSITAS GADJAH MADA 1440 H

Nama Kegiatan Tema Pembicara Hari, Tanggal Tempat Waktu Penulis Notula
Grand Opening Sekolah Intelektual Profetik Paradigma Profetik Dr. Zainal Abidin Bagir & . Prof. Heddy Shri-Ahimsa Putra, M.A., M.Phil. Sabtu, 11 Mei 2019 Ruang Sidang 1 Masjid Kampus UGM 13.00 s.d. 15.00 Adi Mazdi

Sambutan oleh Dr. Arqom Kuswanjono

Kegelisahan di antara banyak keilmuan saat ini salah satunya adalah ada yang hilang, yaitu agama. Awalnya agama terlibat dalam setiap ilmu pengetahuan. Bahkan agama cenderung mendominasi. Setelah renaisans dan modernism, postivisme muncul sehingga terjadi adanya pergeseran relasi antara ilmu dengan agama. Banyak ilmuwan menganggap bahwa agama menjadi penghambat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Namun, setelah itu terjadi kegelisahan kembali bahwa kebenaran ilmu tidak semata-mata urusan rasional begitu saja. Tetapi ada kebaikan dan kemaslahatan yang dituntut dari ilmu. Sehingga para ilmuwan sepakat untuk mengintegrasikan kembali ilmu dan agama.

Di dalam Islam, ilmu dan agama tidak ada masalah, tidak ada ketimpangan satu sama lain. Di UGM sendiri, Prof. Kuntowijoyo mencetuskan paradigma profetik agar lahirnya penemuan baru yang menuju ramatan lil’alamin. Prof kunto melalui objektivikasi dari alquran menjadi ilmu. Harapannya paradigma profetik ini bisa menjadi paradigma yang berbeda dari yang lain dimana nilai-nilai keagamaan bisa mewarnai ilmu pengetahuan terutama agama islam.

 

Pembicara Dr. Zainal Abidin Bagir

Paradigma profetik merupakan kritik atas gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh beberapa ilmuwan islam pada era 1990-an. Paradigma profetik merupakan upaya untuk membangun landasan epistimologis keilmuan/teoritik. Walaupun UIN tegas menyatakan berbeda konsep dengan islamisasi ilmu. Muncul sebuah pertanyaan misal, apakah ilmu kedokteran di UGM sama dengan ilmu kedokteran di UMY. Prof Kuntowijoyo agak merubah konsep dalam artikelnya yaitu sangat berbeda dengan konsep islamisasi ilmu. Menurut beliau, islamisasi ilmu itu praktis artinya sudah ada ilmu kemudian diislamkan. Dalam pandangan Prof. Kuntowijoyo malah sebaliknya, bukan sudah ada ilmu kemudian diislamkan namun islam ini yang dijadikan ilmu. Islam yang telah diobjektifkan harapannya sudah bisa menyentuh rahmatan lil’alamin.

Penekanan Prof. Kuntowijoyo lebih pada aksiologinya, ketika mengembangkan ilmu apakah itu tidak boleh ada keberpihakan atau perlu ada suatu keberpihakan. Bagi beliau ilmu bisa bebas nilai (objektif) namun di sisi lain ada keberpihakan. Ada 3 hal yang ditekankan beliau yaitu:

  • Humanisasi
  • Liberasi
  • Transendensi

Pembicara – Prof. Heddy Shri-Ahimsa Putra, M.A., M.Phil.

Agama dan ilmu pengetahuan tidak lagi terpisah. Integrasi yang benar” intergrasi menjadikan sebuah ide yang dibangun secara empirik. Asumsi dasar yang perlu dibangun. Selain itu, nilai-nilai dan sebagainya. Prof. Kuntowijoyo sejauh ini belum membuat paradigma

Paradigma profetik dengan islamisasi ilmu pengetahuan berbeda. Scientifical Islam tadi digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan bersumber hadist dan alquran. Lebih tepatnya mengobjektivikasi di dunia Islam. Paradigma profetik menjadi pengungkapan bahwa tidak ada perbedaan antara ilmu pengetahuan dengan islam.

Diskusi

  1. Semangat profetik menjadi basis pengembangan keilmuan, apa strategi yang bisa diterima oleh semuanya?

Jawab:

Merubah kurikulum sebagai hal untuk dimulai. Untuk merubah, dimulai dari pemahaman asumsi dasar tentang tidak adanya pemisahan antara keilmuan dengan Islam. Prof. Kuntowijoyo telah mengungkapkan hal tersebut. Pengetahuan harus berdasar reseacrh. Bukanlah sebuah ilmu hafalan, perlu ada basis filosofisnya. Dalam perubahan harus ada inovasi dan difusi. Tidak cukup hanya inovasi. Difusi ilmu pengetahuan perlu dilakukan salah satunya melalui jurnal.

  1. Bagaimana basis Islamisasi ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh Al-Attas?

Jawab:

Perbedaan yang jelas yaitu mengislamisasikan disiplin ilmu. Al faruqi idenya tidak terlalu jelas. Prof. Al attas menggunakan islamisasi ilmu cukup terbatas dan berbeda konteks. Kita perlu menjelaskan ilmu tersebut apakah disiplin ilmu seperti matematika, teknik, antropologi, atau berbicara tentang ilmu sebagai dasar. Mita mungkin bisa mengambil dari sisi implikasi metafisis. Contohnya, orang islam dan orang lain bisa jadi menggunakan teori yang sama namun dengan pemaknaan yang berbeda. Prof. Al attas membangun ISTACT meletakkan dalam disiplin ilmu.

  1. Ilmu itu beda nilai, apakah ilmu ikut bertanggungjawab dengan nilai sosial?

Jawab:

Memang kita tidak berbicara sampai dasar asumsinya, tidak bisa dipisahkan fungsi keilmuan dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat.

  1. Sejauh mana paradigma profetik ini berkembang?

Jawab:

Sudah sempat ada seminar. Dampak secara keilmuan dilibat dari tulisan. Belum ada dampak signifikan dari profetik dalam tatanan intelektual. Implementasinya dilihat dari kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dalam tataran abstrak, namun benar-benar konkrit.

  1. Dunia kita banyak pandangan positivistic. Apa yang sedag terjadi? Bagaimana peluang kajian profetik dalam dunia yang besar?

Jawab:

Peluangnya cukup besar. Pemisahan ilmu pengetahuan dengan agama menjadi puncak dari pemisahan tersebut. Perkembangan terakhir ialah orang merasakan konsekuensi dari meterpecahan ilmu dengan agama. Tradisi-tradisi spiritual menjadikan akibat dari fenomena tersebut. Akibatnya mulai dari ketimpangan sosial dan krisis ekologis yang keduanya berdampak bagi seluruh orang. Krisis inilah yang mendorong orang kembali pada spiritualitas dengan ilmu pengetahuan. Dalam krisis ekologis, inilah manusi diajak bagaimana berperilaku dengan alam. Saya menemui di UIN itu merupakan lulusan UGM yang mengajar fisika namun ada sponsor harus berembelembel islam. Secara artificial hanya mengambil afau mencomot ayat. Mereka memiliki peluang research. Para lulusan tersebut cukup bingung hingga mendapat terapi psikologis karena. Persoalan kita jika berbicara profetik ataupun islamisasi pengetahuan tetapi sistem tidak berubah. Kalau saya sendiri berfikir, melakukan research mendalam namun tidak hanya sekedar artificial.

Unduh versi pdf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here