Paradigma Profetik dalam Ilmu Medika

0
84

NOTULA KEGIATAN

RAMADHAN DI KAMPUS UNIVERSITAS GADJAH MADA 1440 H

Nama Kegiatan Tema Pembicara Hari, Tanggal Tempat Waktu Penulis Notula
Kajian Samudra #5 “Paradigma Profetik dalam Ilmu Medika” Prof. Dr. Edy Meiyanto, M.Si., Apt. Jumat, 10 Mei 2019 Ruang Utama Masjid Kampus UGM 15.45 s.d. 17.30 Alfaina Naimah Salsabila

Materi

Kita sebagai manusia yang menjalani kehidupan ini tidak terlalu asing dengan kesehatan termasuk IPTEK. Karena sejatinya masalah kesehatan itu juga masalah yang terjadi dengan tubuh yaitu fisik. Kita melakukan pekerjaan-pekerjaan setiap hari itu dengan fisik yang semuanya terkait dengan kesehatan. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan kesehatan itu menjadi ilmu yang sangat besar. Pada umumnya, ilmu mengandung konsep ontologi, epistemologi, dan eskatologi.

  1. Ontologi (filsafat ilmu)

Yaitu usaha untuk mendapatkan hakekat/ kebenaran fakta secara menyeluruh, mendalam, dan sejelas mungkin.

  1. Epistemologi (proses dinamika pengembangan ilmu)

Fokus pembahasan:

  1. Sumber pengetahuan
  2. Sifat pengetahuan
  3. Validitas pengetahuan
  4. Eskatologi

Bagaimana ilmu itu diarahkan untuk mencapai apa yang diharapkan. Apakah ilmu itu mampu membawa kita hingga kebahagiaan di akhirat nanti.

Konsep dasar itu akan membawa kerangka atau paradigma yang umunya memakai jalur:

  1. Filsafat

Filsafat rasionalisme, mengagungkan rasio manusia sebagai sumber kebenaran. Semua hal yang didiskusikan berdasarkan logika manusia.

  1. Antroposentrisme

Logika manusia yang bisa menilai kebenaran. Manusia sebagai pusat etika, kebenaran, dan kebijaksanaan. Manusia sebagai pencipta dan sekaligus konsumen.

  1. Deferensiasi

Kebenaran ilmu dipidahkan dari kebenaran agama. Mindset seseorang seakan-akan terpisah antara sains dengan agama. Maka terjadilah ilmu pengetahuan yang sifatnya sekuler.

  1. Ilmu sekuler

Mengaku dirinya objektif dan bebas nilai. Umat Islam memang didorong untuk menjadi umat terbaik yang dihadirkan di tengah-tengah umat yang lain. Contohnya, Jamaah Shalahuddin adalah sebuah komunitas yang ada di tengah-tengah komunitas atau UKM yang lain, maka ada tuntutan di situ. JS harus menjadi yang terbaik dalam beberapa aspek, seperti fasilitas, fisik, administrasi, dan lain-lain. Namun pada kenyataannya masih terdapat kekurangan di beberapa faktor. Sehingga belum jadi mindset bahwa kita harus menjadi umat yang terbaik. Sehingga sadar atau tidak kita memiliki mindset seperti itu juga.

Paradigma Pertumbuhan Ilmu II (PROFETIK)

  • Agama

Agama sebagai dasar ilmu, etika, dan kebijaksanaan. Agama juga sebagai dasar pengembangan filsafat.

  • Teoantroposentrisme

Sumber ilmu ada dua, yaitu agama dan pikiran manusia.

  • Dediferensiasi

Kebenaran rasio dirujuk dengan kebenaran agama.

  • Ilmu Integralistik

Sains dan agama disatukan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan.

Dasar-dasar ilmu yang kita gunakan dalam ilmu apapun pada umumnya terdapat asumsi-asumsi yang dikembangkan melalui model. Model ini harus dikembangkan asumsi yang sesuai. Misal, bila kita ingin melakukan penelitian tentang sesuatu, kita menggunakan hewan terlebih dahulu sebagai model. Dari hal tersebut, nantinya akan muncul nilai-nilai. Tidak cukup kita membuat model, tapi kita perlu nilai-nilai. Nilai-nilai dikembangkan, sehingga kita mendapatkan presepsi yang mampu dikembangkan lebih luas. Banyak sekali ayat dalam Al-Qur’an yang menjadi asumsi dasar seperti dalam ayat Al-Qur’an berikut ini:

Dan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis dan macam warnanya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. (QS. An Nahl: 13)

Asumsi dasarnya sudah jelas. Kita dibekali akal oleh Allah untuk mengembangkan ilmu. Dengan ayat itu saja, manusia seharusnya memproduksi sains. Semangat paradigma profetk seperti ini masih lemah di antara kita, karena terlanjur yang ada di pikiran kita adalah sekularisme. Itu adalah tugas dari Allah yang harus kita laksanakan.

Asumsi dalam sains terdiri dari:

  1. Eksistensi fisik dari alam semesta dengan segala aktifitasnya itu terlepas dari persepsi asumsi kita.
  2. Semua mekanisme alam yang terjadi itu ngi diobservasi. Semua kejadian itu ada sebab-akibat alamiahnya, ngi diterminasi dengan ngin alam yang pasti. Contoh: ngina, gunung Meletus, batu jatuh, dan lain-lain.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan Siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah: 164)

Ayat yang berkaitan dengan nilai dan asumsi tercantum dalam terjemahan Al-Qur’an berikut ini:

“Dan milik Allah meliputi rahasia langit dan bumi dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 123)

Abad 21; Era Genomiks

  • Menyusun draft genom manusia dan dipublikasikan di Journal Nature and Science
  • Pada tahun 2013, terjadi fenomena Gene Editing. Di DNA sendiri terdapat suatu senyawa polimer yang panjang sekali. Gen penyusun sifat makhluk hidup dapat diedit secara tepat, sehingga memungkinkan mengubah sifat keturunannya.
  • Pada tahun 2018, peneliti China berhasil mengedit gene yang ada di genom kita yang berpengaruh pada sifat kita. Maksud mereka baik yaitu mengedit genom pada bayi HIV. Ada satu enzim yang menjadi kunci dalam infeksi virus HIV di dalam sel darah merah. Virus masuk ke darah karena ada yang menangkap reseptor. Gene yang ada di virus itu dipotong, dan seterusnya sehingga bayi hidup sehat. Namun, terjadi gejolak karena belum bisa mengevaluasi akibat dari editing Gene editing ini yang diedit adalah genom asalnya, sehingga berpengaruh terhadap semua sel yang ujungnya berpengaruh terhadap keturunannya. Oleh karena itu, agama harus berperan di sana karena tidak cukup dengan logika. Hal ini akan menjadi kasus yang besar seperti cloning sehingga membangun perspektif dan asumsi dalam kesehatan dan memerlukan kajian yang terus-menerus. Perlu melihat aspek mudharat, tidak hanya aspek manfaatnya. Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kita perlu mengkaji mendalam. Pengembangan nilai-nilai dari agama Islam juga perlu diperhatikan.

Poin-poin penting:

  • Kehidupan modern saat ini membuat sains dan agama dipisah-pisahkan, padahal seharusnya beriringan.
  • Pada zaman dahulu, scientist rajin meneliti, sedangkan pada zaman sekarang, hal tersebut jarang terjadi. Kita sebagai mahasiswa bertugas untuk kembali menghidupkan semngat meneliti.
  • Meneliti itu bersandar pada moral dan agama. Tidak cukup bila hanya bersandar pada salah satunya saja, moral atau agama.

Pertanyaan:

  1. Penanya : Gana

Bagaimana hukum kosmetik baik dari segi agama maupun dari BPOM?

Jawab:

Ketika mengembangkan ilmu, memang harus berfikir ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan untuk apa. Prinsip dasarnya mirip dengan makanan. Thoyib itu terkait dengan pemanfaatan dari pengguna. Kosmetika memang dikembangkan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti sampo, sabun, body lotion, dan lain-lain. Ada jenis yang memang hanya untuk memperindah, seperti lipstick. Kalau dari BPOM hanya berbicara masalah thoyib-nya yang meliputi 3 aspek yaitu keamanan, pemanfaatan yang sesuai, dan kualitas produk.

Kata penutup:

Mari kita mengintegrasikan IPTEK dengan agama dalam menjalani kehidupan.

Unduh versi pdf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here