Paradigma Profetik

0
84

NOTULA KEGIATAN

RAMADHAN DI KAMPUS UNIVERSITAS GADJAH MADA 1440 H

Nama Kegiatan Tema Pembicara Hari, Tanggal Tempat Waktu Penulis Notula
Sekolah Intelektual Profetik #2 Paradigma Profetik Dr. Arqom Kuswanjoyo Sabtu, 11 Mei 2019 Ruang Sidang 1 Masjid Kampus UGM 13.00 s.d. 15.00 Amania Ittaqo

Materi

Pembicara kali ini akan membahas tentang paradigma dalam pandangan lebih khusus yaitu paradigma profetik. Menurut epistemologinya, profetik berasal dari bahasa inggris yakni prophet yang berarti nabi atau sebagai berikut,

  1. Berhubungan dengan kenabian
  2. Memiliki sifat dan fungsi dari kenabian

Dalam wacana akademik, wacana profetik telah diletakkan dan dilakukan oleh para pemikir Islam seperti Ibnu Sina, Ibnu Arabi, Ibnu Rush, dan lain-lain. Dalam arti sempit, profetik yang dimaksud adalah profetik ala Prof. Kuntowijoyo sebagai tokoh pemikir dari UGM yang luar biasa. Karater profetik bukan hanya having knowledge of Islam tetapi being a good moslem. Islam tersebut hidup di dalam diri manusia, baik bertindak dan berperilakunya. Seseorang akan mengembangkan keilmuan tidak lepas dari keagamaan.

Pekan kemarin yang berpikir tentang positivisme, keilmuan hanya berbicara tentang rasio dan mengesampingkan nilai ketuhanan. Ilmu pengetahuan tidak bisa berkembang dengan baik di masa kegelapan eropa yang justru saat itu menjadi masa keemasan bagi keilmuan Islam.

Tentunya, dalam profetik itu tidak sama persis seperti nabi. Ilmu nabi bukan dari quiet knowledge. Ilmu kenabian itu adalah ilmu yang didapat by present yakni ilmu dari Allah. Ilmu itu tidak harus dicari, tetapi ilmu itu meminta dari yang punya ilmu yakni Allah. Perlu ada pembersihan diri dan pendekatan diri pada Yang Maha Kuasa. Analoginya adalah semakin dekat dengan lampu, maka semakin terang pula sesuatu yang mendekat tersebut. Orang yang tidak memiliki ilmu seperti orang yang buta. Ilmu adalah cahaya yang dapat menunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk.

Terdapat empat pilar utama yang dapat menopang kejayaan Islam antara lain,

  1. Ilmu
  2. Filsafat

Pada masa itu, ada kerancuan filsafat hingga kerobohan pilar-pilar lainnya. Memang, filsafat tersebut seperti pisau yang tajam dan bisa digunakan sebagai kebaikan atau keburukan. Ada kerancuan filsafat yang disampaikan oleh Al Ghazali. Filsafat ini seharusnya digunakan untuk mencari jawaban dari pertanyaan kenapa harus sholat? Mengapa perlu berpuasa? Filsafat dipandang buruk dan menjadikan hilang. Seseorang melakukan ibadah menjadikan adanya pendangkalan makna.

  1. Tasawuf

Tasawuf juga roboh. Ruh di dalam beribadah menjadi kering atau kurang dalam juga. Misalnya, sholat itu ada rukun fi’li, qauli, dan qolbi. Seringkali, seseorang hanya berbicara gerakan dan ucapan yang didiskusikan hingga menemui berdebatan. Padahal sebenarnya ada amalan hati yang justru menjadi tiang utama dari sholat. Dalam sholat, komunikasi yang dilakukan bukanlah hanya sekedar bahasa lisan, namun bahasa ruh juga digunakan. Kedalaman qolbu seringkali tidak dibahas dan dikembangkan. Akal dan qolbu itu bisa melintasi ruang dan waktu. Perlu adanya kehadiran qolbu dalam kekhusyukan ibadah. Hal tersebut berbicara di dalam tasawuf. Ketika dipahami ilmu umum itu ilmu sunnah dan ilmu agama itu ilmu wajib, seringkali ungkapan tersebut dituduhkan kepada Al-Ghazali. Bahkan hingga di tingkat universitas ada pemisahan pembahasan ilmu agama dan ilmu umum.

  1. Syari’ah

Dalam hal ini, masyarakat berkelindan pada perbedaan syari’ah yang tak kunjung usai.

Sejarah tentang integrasi agama dengan ilmu sebenarnya telah terjadi di barat dan Islam namun ada perbedaan. Di barat terjadi konflik antara ilmu dan agama contohnya seperti teori darwinisme dengan para agamawan yang beranggapan bahwa tidak ada revolusi. Ilmu tidak memiliki moral dan agama ini menjadi dasar nilai-nilai etisnya. Dalam advan lagi, agama menjadi epistemologinya. Profetik sebenarnya masih perlu banyak pengembangan dalam riset-riset keilmuan.

Di dunia Islam, gerakan integrasi agama dan ilmu itu karen separation atau pemisahan. Sumber separation terbagi menjadi dua yaitu, ekternal meliputi gerakan sekularisme, positivisme, dan saintisme serta internal meliputi pembedaan ilmu wajib (ilmu agama) dan ilmu sunnah (ilmu umum). Ilmu sebenarnya netral, namun cara pandang orang terhadap ilmu menjadikan adanya kecenderungan ilmu tadi. Postivisme itu menolak tentang metafisika dan yang tidak berukur. Selain hal tersebut tidak bermakna. Positivisme harus terukur. Di dalam agama, hal tersebut menjadi konflik. Agama memiliki keyakinan bahwa sesuatu itu benar karena alur pikir dan yang menyampaikan adalah orang benar yang memiliki otoritas dan dapat dipercaya. Scientisme mencoba menggantikan agama dengan ilmu. Mereka berpandangan bahwa ilmu yang dapat memberikan solusi, bukanlah agama. Gerakan menyilang menjadikan adanya perubahan dari IAIN menjadi UIN dan UGM memunculkan wacana epistemologi profetik.

Tokoh-tokoh penting dalam konteks profetik yaitu,

  1. Al jabiri dengan konsepnya bayani, burhani, dan ‘irfani.
  2. Ismail raji al faruqi dan SMN Al-Attas tentang islamisasi ilmu.

Al-Attas memulai islamisasi ilmu dari islamisasi bahasa. Sebenarnya dalam islamisasi bahasa ada degradasi makna. Contoh, kata ilmu jika dalam bahasa inggris ialah science. Science cenderung pada pandangan positivistik. Padahal makna dari ilmu bukanlah hal tersebut. Islamisasi ilmu juga perlu dibarengi dengan adab.

  1. Amin Abdullah tentang integrasi-interkoneksi

Konsep dari Amin Abdullah berawal dari ilmu Qur’an dan Sunnah yang diilmukan.

  1. Kuntowijoyo tentang pengilmuan islam. Beliau berpandangan bahwa Qur’an dan Sunnah itu menjadi hal yang diilmukan.

Konsep keilmuan bersifat teoaprosentris-integralistik, yaitu menyatunya pengetahuan yang berasal dari Tuhan dan pengetahuan yang berasal dari manusia. Tidak ada dikotomi antara ilmu dan agama, namun ilmu dan agama adalah menyatu dalam satu nafas. Ilmu dan agama itu adalah hal yang tidak dapat dipisahkan.

Problem utama yang dilihat dari Prof. Kuntowijoyo adalah adanya pengupasan keilmuan yang belum mendalam berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an itu adalah petunjuk, bukan hanya sekedar sumber ilmu pengetahuan. Yang dilakukan Prof. Kuntowijoyo adalah menghadirkan ilmu profetik. Dasar teologisnya tertuang dalam QS. Ali Imron ayat 110. Ada 3 pilar epistemologi profetik

  1. Amar ma’ruf (humanisasi) mengandung pengertian memanusiakan manusia yang harus dikembangkan. Manusia adalah makhluk dimensional yang sangat kompleks. Manusia dapat mengembang kekuatan tubuhnya, kemampuan akalnya, keimanannya, rasanya, dan sebagainya.
  2. Nahi munkar (liberasi) mengandung pengertian pembebasan. Manusia harus bisa menghilangkan sifat buruk. Dalam pemahaman ‘irfani, pembersihan jiwa sangat penting sekali. Kalau terlalu lama tidak dibersihkan, jiwa akan sulit dimasuki hidayah.
  3. Tu’minuna billah (transendensi), dimensi keimanan manusia. Manusia adalah makhluk yang mampu mentransendensikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebagian ruh manusia adalah ruh Allah. Hal tersebut menjadikan manusia seperti Allah namun terbatas. Manusia yang ingkar kepada Allah sebenarnya dia ingkar pada dirinya sendiri.

Terdapat periode perkembangan Islam,

  1. Mitos – literalis, anti tafsir
  2. Ideologi – gerakan-gerakan politik, yuridis dengan mendirikan negara Islam. Islam harus berbicara tentang politik, namun yang disayangkan agama seringkali dipolitisasi menjadikan adanya agama ditunggangi politik.
  3. Ilmu – objektivikasi Islam. Ketika semua ilmu dikembangkan, adanya hanyalah kebermanfaatan. Jika hasilnya bukan sebuah kebermanfaatan, artinya pelaku penafsiran yang perlu dipertanyakan.

Strategi pengembangan ilmu profetik

  1. Integralisasi, yaitu pengintegrasian kekayaan keilmuan manusia dengan wahyu (petunjuk Allah dalam Al-Qur’an beserta pelaksanaannya dalam sunnah Nabi). Orang yang baik itu adalah orang yang mengajar, orang yang belajar, dan orang yang senang di majelis pembelajaran.
  2. Obejektivikasi, yaitu pengkajian ilmiah atas ajaran islam agar menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Tanya Jawab

  1. Giovani

Mengapa ilmu perlu diislamisasikan padahal islam itu ya ilmu itu sendiri? Dalam konteks ini, ilmu adalah islam dan islam adalah ilmu itu sendiri. Bagaimana jika dikontekskan islam menjadi pisau yang justru bisa melukai masyarakat? Jika ilmu dapat menjadi hal yang bisa dimanipulatifkan, apakah ilmu adalah islam atau islam adalah ilmu?

Jawab :

Untuk membahas seperti memang tidak bisa dilihat dalam satu pendekatan. Perlu penjelasan yang lebih luas. Pada dasarnya, ilmu itu seperti alat juga yang termasuk fitrah. Ilmu dalam hal ini tidak beragama sebenarnya. Ilmu yang tidak ada iman dapat menjadi hal yang merusak. Ilmu dengan iman akan menjadikan manfaat bagi orang lain. Cara pandang yang linear sesperti itu bisa merancukan dan membingungkan bahkan dapat menyesatkan. Agama akan mendampingi keilmuan.

  1. Naufal
  2. Bagaimana cara mengoperasionalkan dasar teori profetik tentang transendensi?
  3. Tentang pengagungan humanisme, bagaimana pandangan Bapak menurut fenomena tersebut?

Jawab:

  1. Transendensi itu contohnya, mengapa jantung berdetak? Orang dianggap mati ketika jantung tidak berdetak. Detak jantung bukanlah persoalan fisik saja. Ada persoalan metafisik yang tidak bisa dijelaskan juga dalam pandanga medis. Ada yang mengatur terjadinya detak jantung tersebut. contoh lain, ada pada sistem tata surya dengan perputaran benda-benda langit pada porosnya.
  2. Humanisme dengan humanisasi adalah dua hal yang berbeda. Jika ada isme, sebuah kata menjadi paham. Humanisme memahami bahwa ukuran kebenaran, kebaikan, kebaikan, hingga kesakralan dilihat dari manusia. Humanisasi lebih kepada usaha pengoptimalan untuk menghadirkan kebermanfaatan.
  3. Agenda pengilmuan Islam ini tentunya yang dapat menggapai hanyalah orang yang berkecimpung dalam berakademik. Bagaimana profetik dapat menyentuh orang-orang tersebut?

Jawab:

Paradigma profetik adalah sebuah tawaran kepada ilmuan. Tawaran tersebut akan membawa kepada rahmatan lil ‘alamin.

  1. Apakah agama menyumbang dimensi moralitas?

Jawab:

Moral adalah bagian kecil dari Islam. Seperti yang tercantum dalam QS. Al Baqarah : 184, Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia. Moralitas ini adalah pada tahap aksiologis. Dalam aspek ontologis ini sebenarnya agama dan ilmu berasal dari unsur yang sama yaitu dari Allah.

Unduh versi pdf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here