Paradigma Ilmu

0
226

NOTULA

RAMADHAN DI KAMPUS UNIVERSITAS GADJAH MADA 1440 H

Nama Kegiatan Tema Pembicara Hari, Tanggal Tempat Waktu Penulis Notula
Sekolah Intelektual Profetik #1 Paradigma Ilmu Dr. Arqom Kuswanjono Ahad, 5 Mei 2019 Ruang Sidang 1 Masjid Kampus UGM 13.17 s.d. 14.49 Juli Fathonah

Poin Pembahasan

Paradigma Ilmu

Rincian Pembahasan

Dalam ilmu, paradigma merupakan satu hal yang sangat penting. Paradigma menurut Thomas Kun merupakan seperangkat keyakinan mendasar yang memandu tindakan-tindakan kita, baik tindakan keseharian atau dalam penyelidikan lmiah atau secara singkatnya merupakan cara pandang.

Paradigma melingkupi beberapa teori (hubungan antar konsep yang dikaji menjadi satu). Fungsi paradigma yaitu memberikan kerangka, mengarahkan bahkan menguji konsistensi dari proses keilmuan. Salah satu contoh paradigm yaitu positivisme. Tokohnya yaitu Auguste Comte, J.S. Mille, juga Emile Durkheim.

Syarat kebenaran ilmu dalam positivisme:

  1. Dapat diamati (observable)
  2. Dapat diulang (repeatable)
  3. Dapat diukur (measurable)
  4. Dapat diuji (testable)
  5. Dapat diramalkan (predictable)

Positivisme memiliki sifat: behavioral, operasionall dan kuantitatif. Tiga prinsip dasar positivisme:

  1. Ilmu merupakan upaya mengungkapkan realitas.
  2. Hubungan antara subjek dan objek dapat dijelaskan.
  3. Hasil temuan memungkinkan hasil general sehingga dapat digunakan pada waku dan tempat yang berbeda.

Post-Positivisme

            Yaitu positivisme yang mengandalkan pengamatan langsung belum cukup, sehingga diperlukan triangulation, yaitu penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, penelitian dan teori. Pandangan ontologisnya: critical realism, realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hak alam, tetapi suatu realitas mustahil dapat dilihat secara benar oleh manusia dan melakukan pengamatan secara langsung, harus melibatkan objeknya. Pada paradigma ini lebih menekankan pada verifikasi.

Konstruktivisme

Pemikiran ini mengembangkan beberapa indikator:

  1. Penggunaan metode kualitatif.
  2. Teorinya bersifat membumi (grounded theory): teori tidak muncul dari awal namun teori muncul dari keterlibatannya pada masyarakat (lapangan).
  3. Kegiatan ilmu bersifat natural (apa adanya), menghindari penelitian yang sudah diatur dan berorientasi laboratorium.

*venomenologi: cara pandang kita pada suatu venomena.

  1. Penelitian lebih bersifat partisipatif dari pada mengontrol sumber-sumber informasi.
  2. Secara ontologis realitas bersifat sosial, sehingga sangat beragam dan relatif.
  3. Jika positivisme ingin membuat generalisasi, kontruktivisme mengembangkan teori yang bersifat sementara, lokal dan spesifik.
  4. Teori muncul berdasar data yang ada, bukan dibuat sebelumnya dalam bentuk hepotesis.
  5. Metode yang digunakan adalah hermeneutik, dialektik yang fokus pada konstruksi, rekonstruksi dan elaborasi suatu proses sosial.

Hermeneutik: cara pandang yang tidak hanya berfokus pada teks namun memperdalam adanya teks tersebut atau dibaca secara komprehensif.

Critical Theory

Keilmuan yang didasarkan pada konsepsi thd berbagai pemikiran dan pandangan. Pandangan antologisnya yaitu critical realisme. Aliran ini mementingkan alasan, prosedur dan bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan kebenaran. Ciri-ciri dari critical theory sebagai berikut,

  1. Prosedur, metode, dan metodologi ilmu digunakan secara terpisah tapi bersama-sama.
  2. Logika ilmu dapat berubah, tidak selalu kumulatif dan progresif, tapi dapat pula sebagai potongan-potongan kebenaran .
  3. Standar dan aturan keilmuan berkembang dalam konteks sejarah masyarakat.
  4. Objektivitas tidak dapat tercapai, kerena hard data (kuantitatif) tidak dapat terpisah dari soft data yaitu pikiran, perasaan, dan persepsi.
  5. Ilmu tidak bebas ilmu. Ilmu diciptakan untuk memihak/dapat diterapkan pada keadaan, kelompok atau orang tertentu.
  6. Pengembangan ilmu tidak hanya untuk mengungkapkan realitas, tapi juga memproduksi nilai-nilai.
  7. Ilmu mirip studi tentang masa lalu, yang dapat menuntun kita tentang berbagai kemungkinan di masa mendatang.

Cara pengujian seluruh teori yaitu bagaimana sang peneliti menjelaskan alurnya secara logis. Dan dalam konteks agama, agama juga harus mengikuti perkembangan zaman namun tidak mengubah konteks value yang sebelumnya sudah ada.

Sesi Tanya-Jawab:

  1. Aqid

Apakah dalam satu kondisi seseorang dapat menggunakan paradigma yang berbeda atau stag dalam satu paradigma saja?

Jawab:

Menurut Thomas Kun: jika seseorang sudah menggunakan satu paradigma maka ia tidak akan menggunakan paradigma lainnya.

Emilacatos: tidak menggunakan paradigma yang stag karena tidak pada paradigmanya yang penting namun pada project researchnya.

  1. Pram
  2. Paradigma mana yang cocok diterapkan di Indonesia?
  3. Penolakan kebenaran dilihat dari mana?
  4. Apa yang lebih baik? beragama atau bertuhan?

Jawab:

  1. Paradigma yang cocok di Indonesia itu tidak dapat stag pada satu paradigma dan yang paling penting adalah value yang ingin dipertahankan.
  2. Penolakan kebenaran dilihat dari otoritas keilmuan. Namun, otoritas tersebut tidak boleh terlepas dari value.
  3. Tidak boleh berfikir kotak-kotak. Beragama atau bertuhan maka keduanya baik. Bertuhan pada spritualitas. Sedangkan beragama untuk formalitas (eksoterik)/bentuk dan substansial (esoterik)/isi. Unsur beragama adalah yakin adanya tuhan.

Istilah agama dan religi:

Agama adalah suatu yang diformalkan dan memiliki simbol seperti bendera. Religi adalah belum terformalkan dan tidak terlihatnya simbol tersebut.

Unduh versi pdf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here