Nilai-Nilai Pokok dalam Al-Qur’an & Sunnah

0
99

Oleh steering committee Ramadhan di Kampus 1441 H

Dalam tulisan edisi sebelumnya, kita sudah menyinggung nilai-nilai universal yang terkandung dalam ajaran Islam. Serangkaian nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah ini memiliki sifat yang terbuka, dinamis, dan luas. Nilai-nilai ini adalah apa yang seorang muslim ingin adopsi dan ikuti dalam hal keyakinan, gagasan, dan praktik tertentu. Salah satu tantangan yang paling rumit dalam upaya untuk melakukan kontekstualisasinya dalam kehidupan sehari-hari adalah metode yang digunakan untuk menentukan tingkatan signifikansi dari nilai-nilai tersebut dan penerapannya dalam memandang suatu permasalahan yang baru. Bisa jadi apabila seseorang salah dalam merumuskan nilai-nilai tersebut, maka akan terjadi pertentangan dalam menafsirkan antara nilai-nilai yang dianggap penting.

Dalam rumusan Prof. Abdullah Saeed, nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam dapat disusun menjadi hierarki nilai dengan urutan yang dianggap paling pokok tidak boleh bertentangan dengan nilai di bawahnya. Prof. Abdullah Saeed membagi nilai-nilai tersebut menjadi lima bagian.

Level pertama adalah nilai-nilai wajib (obligatory values). Nilai-nilai ini berisi tentang ajaran ini agama yang tidak bergantung konteks zaman dan masanya, misalnya rukun iman dan rukun Islam yang berisi tentang pokok-pokok serta prinsip dasar dalam beragama yang bentuknya tetap sepanjang masa.

Level kedua adalah nilai-nilai fundamental (Fundamental Values). Nilai-nilai ini berisi tentang perlindungan terhadap aspek-aspek penting yang melekat kepada manusia. Para ulama umumnya menyebut hal ini sebagai maqashid syariah (tujuan-tujuan diturunkannya syariat) yang salah satunya dirumuskan dan dipopulerkan oleh Imam Al-Ghazali sebagai al-kulliyat al-khams (lima nilai pokok/universal) yaitu mencakup perlindungan atas agama, jiwa, akal, harta benda, dan keturunan manusia. Diskusi terhadap aspek pokok maqashid syariat ini kini telah berkembang mencakup aspek lingkungan dan kehormatan manusia.

Level ketiga adalah nilai-nilai perlindungan (protectional values). Nilai-nilai ini berisi tentang dukungan terhadap nilai-nilai fundamental beserta turunan hukum-hukumnya. Misalnya jika nilai fundamental menjamin tentang penjagaan terhadap aspek agama manusia, maka turunan nilai perlindungannya adalah jaminan hukum atas kebebasan melaksanakan ajaran agama bagi manusia.

Level keempat adalah nilai-nilai implementasi (implementational values). Nilai-nilai ini adalah penjabaran lebih spesifik terkait nilai-nilai perlindungan dalam kehidupan dengan memperhatikan budaya dan keadaan masyarakat pada saat itu. Misalnya dulu orang-orang yang murtad dari agama Islam diperintahkan untuk dibunuh karena pada saat itu konteksnya mereka berkhianat kepada kaum muslim dan dalam kondisi perang, namun karena kondisi yang sudah berbeda, sekarang pelaksaan hal ini tidak dibenarkan.

Level kelima adalah nilai-nilai instruksional (instructional values). Nilai-nilai ini berisi instruksi, arahan, atau larangan tentang suatu peristiwa atau kisah tertentu yang sifatnya sangat spesifik dan biasanya hanya terbatas pada konteks tertentu. Contohnya adalah anjuran untuk memanjangkan jenggot dan memendekkan kumis sebagai suatu strategi politik identitas untuk membedakan kaum muslim dengan non-muslim pada waktu itu.

Di antara kelima nilai ini, ada yang sifatnya bebas konteks serta ada yang sifatnya terikat konteks. Nilai yang sifatnya bebas konteks seperti nilai-nilai wajib dan nilai perlindungan merupakan pedoman dan pokok dasar yang harus ditekankan signifikannya dalam memahami ajaran-ajaran agama untuk menjadi dasar pemikiran dan tindakan oleh setiap muslim, sedangkan nilai perlindungan, implementasi, dan instruksional yang terikat dengan konteks harus dimaknai secara mendalam dan hati-hati dengan mempertimbangkan aspek frekuensi kejadian, penekanan, dan relevansinya dengan kejadian di zaman awal Islam dan dibandingkan dengan situasi yang dihadapi umat muslim saat ini dengan tetap berpedoman pada nilai-nilai wajib dan fundamental.

Beberapa nilai dan praktik dapat ditinggalkan atau mengalami perubahan mengikuti konteks tertentu, contohnya soal kebolehan seorang muslim untuk berhubungan biologis dengan budak yang dimilikinya pada awal mula turunnya Islam, akan tetapi karena saat ini praktik perbudakan telah dihapuskan tentu perbuatan seperti itu tidak diperbolehkan dan dapat dianggap sebagai sebuah pelanggaran terhadap kehormatan wanita. Berbagai hal atau nilai yang dulunya mungkin tidak dianggap signifikan di masa-masa awal Islam dulu, mungkin juga dapat dianggap signifikan pada masa ini. Misalnya terkait pembahasan seputar hak asasi manusia yang kini diakomodasi dalam pemahaman agama Islam dan sekarang menjadi aspek penting bahkan di semua agama.

Dengan perkembangan situasi sosial dan budaya tentu akan banyak dijumpai penafsiran-penafsiran baru untuk menjawab persoalan-persoalan yang dahulu tidak dijumpai dalam zaman nabi dalam rangka mewujudkan ajaran Al-Qur’an dan sunnah akan etika kejujuran, keadilan, dan kemanfaatan.

Dalam upaya ini setiap sarjana muslim harus memahami dasar-dasar agama dan memaknai nilai-nilai pokok yang terkandung dalam ajaran agama agar dapat senantiasa terbuka dan tanggap dalam menghadapi perubahan konteks sosial yang sedemikian pesatnya demi mewujudkan cita cita Islam sebagai agama rahmatan lil aalamin.

 

 

Wa fawqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim

Wallahu’alam bish-showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here