Membangun Nalar Kritis Masyarakat

0
112

NOTULA KEGIATAN

RAMADHAN DI KAMPUS UNIVERSITAS GADJAH MADA 1440 H

Nama Kegiatan Tema Pembicara Hari, Tanggal Tempat Waktu Penulis Notula
Kajian Samudra #3 “Membangun Nalar Kritis Masyarakat” Prof. Drs.  Purwo Santoso, M.A., Ph.D. Rabu, 8 Mei 2019 Ruang Utama Masjid Kampus UGM 16.10 s.d. 17.10 Retno Eka

Materi

            Pembicara menyoroti bahwa sebagai komunitas akademik tidak selalu benar atau sempurna. Masih ada cacat atau kekurangan yang harusnya menjadikan kita sebagai masyarakat yang tidak men-judge orang lain yang memiliki pandangan yang berbeda dari pandangan masyarakat umum. Ada 2 pokok bahasan yang disampaikan dalam Kajian Samudra pertemuan keempat ini, antara lain:

  1. Adanya kealphaan ilmuan.
  2. Kritis dalam mencermati apa yang sedang berlangsung dan mengajukan pertanyaan.

            Dalam bahasan kealphaan keilmuan, pembicara membagi masyarakat menjadi dua golongan yaitu model tradisi ngaji (merepresentasikan masyarakat yang paham agama) dan model tradisi sekolah (merepresentasikan masyarakat yang kurang paham agama). Dalam pemikiran masyarakat tradisi ngaji, pengambilan keputusan dan perilaku yang dilakukan didasari atau dilandasi dengan Al-Qur’an dan mengganggap Al-Qur’an adalah referensi yang paling valid. Verifikasi kebenaran juga harus bisa dikonfirmasi dalam Al-Quran dan beberapa mashab. Sedangkan dalam pemikiran masyarakat tradisi sekolah, referensi yang dianggap valid adalah ketika kita membuat makalah penelitian atau skripsi dilengkapi dengan daftar referensi dengan nama-nama orang yang sudah besar dan informasi yang disampaikan dianggap valid. Selain itu, dalam penyusunan skripsi sangat jarang ditemui adanya pernyataan klaim Maha benar Allah SWT atas segala firman-Nya.

            Pembicara juga menekankan tentang masalah “Mengelola paradoks banjir informasi”. Dengan banyaknya informasi yang ada, kita sebagai masyarakat harusnya dapat menggambil keputusan dan menentukan perilaku yang sesuai, tetapi hanya sebagian orang saja yang bisa memanfaatkan banyaknya informasi yang ada. Dalam mengelola informasi, masyarakat seringkali menanggapi bahwa tidak suka dengan sedikitnya informasi yang ada. Namun, = apabila dihadapkan dengan banyaknya informasi, justru masyarakat akan cenderung memunculkan masalah baru. Apakah kita sebagai masyarakat telah terfasilitasi dengan baik agar tidak gagap dalam mengelola informasi yang banyak? Hal tersebut dijelaskan dengan grafik (kebenaran-ketersediaan informasi).

            Dalam grafik (kebenaran-ketersediaan informasi) menunjukkan kemampuan kita untuk mengkonfirmasi suatu kebenaran informasi adalah kurang. Idealnya adalah adanya informasi yang melimpah juga dibarengi dengan menjaring kebenaran informasi. Kurangnya kemampuan masyarakat untuk menjaring kebenaran informasi menjadikan adanya produksi hoax di lingkungan masyarakat. Hoax sendiri adalah hasil dari kegagalan masyarakat/individu dalam mengelola informasi. Dalam realitanya, masyarakat sekarang belum sampai pada level untuk mengelola banyak informasi. Metode yang dilakukan masyarakat adalah dengan melakukan generalisasi informasi yang menyebabkan adanya informasi-informasi penting yang hilang serta mudahnya kita dalam menyalahkan orang lain. Hal tersebut adalah bukti kita tidak bisa menjaring informasi dengan baik.

            Munculnya tradisi keilmuan di masyarakat menyebabkan timbulnya rasa over confidence terhadap bidang keilmuan yang dipelajari. Cara menyikapinya adalah menghadirkan kearifan pakar keilmuan yang mampu berfikir dalam bidang interdisiplin ilmu, bukan hanya multidisiplin ilmu (apabila multidisiplin ilmu, maka dalam suatu kesatuan antar displin-disiplin ilmu yang ada tidak ada komunikasi yang harusnya dijalankan). Akar kegagalannya adalah disiplin ilmu menormalkan disiplin ilmu lain yang menyebabkan tidak ada ketersediaan untuk mengakui disiplin ilmu lain. Pembicara membahas tentang the post truth society yang merupakan tradisi keilmuan yang sifatnya ontologistik. Artinya adalah dalam mempelajari suatu disiplin ilmu kita tidak mempertanyakan tentang apa sebenarnya disiplin ilmu tersebut dan dasar-dasar yang digunakan untuk menetapkan ilmu tersebut sehingga banyak dari kita yang tidak terlalu menghiraukan klaim kebenaran yang ada berkaitan dengan disiplin ilmu masing-masing.

            Pembicara menunjukkan gambar grafik (ontologi-aksiologi-epistimologi). Dalam kompetensi keilmuan harus ada aspek poin-poin keilmuan yang dilengkapi dengan alas an kebenarannya. Basa-basi dalam penulisan menunjukkan kita tidak pernah melakukan verifikasi kebenaran. Dasar dalam pernyataan suatu bidang keilmuan harus ada dan terbukti kebenarannya. Seiring dengan berjalannya waktu, pertanyaan untuk apa ilmu dikembangkan sering kali tidak lagi dipersoalkan.

Pembicara memiliki hipotesis : bahwa kerentanan kita dalam produksi hoax adalah karena kurangnya self critic yang tidak kita sadari karena sudah terjadi secara normal. Bahwasannya proses Pendidikan yang berlangsung tidak hanya dari segi ontologistik, tetapi juga kognitif. Tradisi sekolah masyarakat hanya mencapai level kognisi bukan afeksi sehingga dalam realisasinya banyak terdapat kesalahan dan kekurangan yang harap dimaklumkan.

Pembicara memiliki hipotesis bahwa komunitas keilmuan di banyak universitas (contohnya UGM) kebanyakan salah niat. Maksudnya adalah apakah ilmu yang kita pelajari itu untuk dipelajari atau dikuasai? Dalam contohnya, tradisi ngaji seorang kyai dapat menjalankan perilaku bahwa perbuatan dan perkataannya adalah sama. Hal tersebut merupakan penanda adanya komitmen keilmuan dan tradisi ngaji dalam menekuni suatu ilmu adalah untuk realisasi prakteknya. Apabila ilmu dipelajari adalah untuk dikuasai, pemikiran dapat menjadikan kita menjadi orang yang merasa benar atas segala sesuatu yang diucapkan.

Nalar kritis dalam masyarakat yang tidak terkawal dengan baik disebabkan karena tidak menemui aspek aksiologi, ontologi, dan epistimologi. Kita tidak pernah memikirkan efek yang timbul terhadap orang lain atas perbuatan yang kita lakukan. Pembicara membahas tentang buku “Saring Sebelum Sharing” yang berisi tentang respond dalam kesalahan saring sebelum menyampaikannya pada banyak orang. Pembicara berharap dunia keilmuan lebih kedap dari banjir informasi yang ada.

Tanya Jawab

  1. Bagaimana merubah paradigma tentang aspek penyampaian ilmu oleh masyarakat dengan tradisi ngaji dengan masyarakat dengan tradisi sekolah? Sekarang ini kita seperti diarakhan menuju ilmu yang kapitalis, bagaimana pendapat bapak?

Jawab:

Ilmu itu memang kadang dikapitalisasi dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang disampaikan dari darma pengabdian terhadap masyarakat. Pengabdian masyarakat yang dilakukan tidak hanya sekedar basa-basi dan hanya dituliskan dalam judul kegiatan, tetapi juga di setiap sektor kegiatan pengabdian terhadap masyarakat harus melekat. Dalam mencapai penyampaian ilmu yang baik, seharusnya urutan dari tri darma perguruan tinggi dibalik susunannya. Barulah setelah itu ilmuan Indonesia pantas untuk didengarkan. Karena selama ini ilmu yang diberikan di perguruan tinggi tidak sejalan dengan kondisi di lingkungan masyarakat yang sesungguhnya. Apabila tidak setuju dengan adanya pematenan hak ilmu pengetahuan, pembuatan gerakan bisa diinisiasi yang nantinya akan memprovokasi para masyarakat tradisi ngaji dengan menyajikan data-data empiris dengan koreksi epistimologi dan aksiologinya. Paradigma dapat menjadi sebuah paradigma apabila orang-orang tidak menyadari itu.

  1. Apakah ridha seorang guru berpengaruh terhadap kesuksesan/keberkahan ilmu seorang murid?

Jawab:

Pada masyarakat dengan tradisi ngaji, selalu ada standar untuk seorang guru itu mendoakan muridnya. Jadi, ada aspek doa yang mendoakan dalam lingkungan tradisi ngaji. Sedangkan dalam tradisi sekolah, tidak menjadi keharusan bahwa seorang guru mendoakan muridnya.

Unduh versi pdf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here