Memaknai kembali Pesan Islam Sebagai Agama Rahmatan Lil Alamin

0
82

 وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam“. – Q.S. Al-Anbiya (21): 107

Salah satu prinsip pokok yang menjadi landasan utama seluruh isi pesan dalam ajaran agama Islam adalah sifatnya yang rahmatan Lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) dengan membawa kedamaian atau kemanfaatan bagi siapapun yang menerima dan menjalankan ajarannya. Hal ini tentu merupakan suatu ciri yang penting, mengingat posisi Islam sebagai agama terakhir yang diturunkan kepada umat manusia dan fungsinya sebagai penyempurna ajaran-ajaran agama terdahulu secara otomatis akan menuntut isi ajarannya agar selalu kontekstual dan sesuai dengan dinamika perkembangan masyarakat sepanjang zaman.

Prinsip rahmatan Lil alamin ini secara garis besar dapat didefinisikan menjadi dua unsur pokok, yaitu misi agama untuk membawa kedamaian dan sifat ajaran agama yang universal. Poin pertama terkait misi agama untuk membawa kedamaian, kita dapat melihat bahwa secara inheren misi kedamaian itu terkandung dalam akar kata “Islam” itu sendiri. “Islam” berasal dari kata “aslama” yang berasal dari kata “Salam” yang berarti ketenangan atau kedamaian. Dari sinilah kemudian muncul sebutan untuk mereka yang menganut ajaran Islam sebagai seorang “Muslim” yaitu “orang-orang yang mendapatkan kedamaian dengan menyerahkan diri (kepada Allah)”. Dengan demikian, spirit utama ajaran agama Islam adalah untuk menyebarkan kedamaian dan membawa manfaat kepada seluruh umat manusia dan alam semesta, sejalan dengan tugas manusia sebagai khalifatullah fil Ardhi (Khalifah Allah di bumi).

Poin kedua, bahwa selain ajaran agama itu harus selalu membawa kedamaian, prinsip Islam sebagai agama rahmatan Lil alamin juga memiliki arti bahwa agama Islam adalah agama yang sifat ajarannya universal, yaitu ia dapat diterapkan oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja tanpa harus terikat dan dibatasi oleh suatu tempat atau waktu tertentu.

Abdurrahman Wahid menjelaskan bahwa sifat universal Islam itu sebagai konsep ajaran komprehensif yang mencakup keseluruhan aspek keimanan (tauhid), hukum agama (syari’ah), dan etika (akhlak). Kesemuanya saling berkaitan dalam membentuk suatu cara pandang dan metode hidup bagi umat muslim yang tidak hanya mencakup aspek peribadahan yang berdimensi vertikal antara hamba dengan sang pencipta, tetapi juga berdimensi horizontal yang mengatur juga aspek kemanusiaan yang berkaitan dengan hubungan antar sesama manusia.

Menurut Fazlur Rahman, ajaran Islam perlu dibedakan antara apa yang disebut sebagai Islam Normatif dan Islam historis. Islam Normatif adalah ajaran Al-Quran dan Sunnah yang berisi ide-ide moral dan prinsip-prinsip dasar dalam pesan agama, sedangkan Islam historis adalah bentuk penafsiran dan praktek yang dilakukan dalam menerapkan ajaran normatif tersebut dalam bentuknya yang beragam. Islam Normatif inilah yang disebut sebagai nilai-nilai universal yang sifatnya abadi dan menjadi rujukan dalam menerapkan ajaran agama Islam. Nilai-nilai universal ini kemudian akan berdialog dan dikontekstualisasikan dan melahirkan tafsir-tafsir keagamaan yang bergerak dinamis dan terbuka sesuai dengan perkembangan peradaban pada zamannya. Dengan demikian, suatu pembaharuan atau revisi terhadap suatu paham keagamaan tertentu bukanlah hal yang terlarang, selama ia tetap berpedoman kepada nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip dasar Al-Quran dan sunnah yang menjadi pedoman utamanya.

Nilai-nilai universal yang dimaksud mencakup nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, egalitarianisme, moderasi, dan kedamaian. Kesemuanya menjadi pedoman moral dan prinsip utama dalam pelaksanaan ajaran Islam yang prakteknya berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat-masyarakat saat itu. Dengan kerangka pemikiran seperti ini, kita dapat memahami pesan-pesan agama secara lebih substantif dan memandang positif gerak kemajuan zaman tanpa harus menjadikan ajaran agama sebagai sesuatu konsep usang yang terjebak dengan batasan ruang dan waktu.

Misi utama ajaran Islam sebagai suatu ide tentang konsepsi moral dan etika yang ideal inilah yang harus menjadi titik fokus setiap umat muslim. Bahwa fungsi terpenting dari agama adalah sebagai pedoman moral dan etika yang mengatur pola kehidupan manusia dengan alam dan manusia yang lain. Output utama yang menjadi tujuan diturunkannya risalah Islam adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dan di tengah modernisasi yang terus berlangsung dengan sedemikian pesatnya, ajaran Islam dapat berperan dalam memberikan pedoman etika dan moral dalam memberikan petunjuk dan arah kemana arus modernisasi ini akan dibawa, sekaligus sebagai penawar dari segala ekses negatif yang dihasilkannya.

 

Wa fawqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim

Wallahu a’lam bish-showab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here