Masih Relevankah Islam di Tengah Modernisasi?

0
187

Masih Relevankah Agama di Tengah Modernisasi?

Oleh : Steering Committee RDK 1441 H

Pembahasan terkait modernisasi merupakan salah satu tema yang menjadi fokusan dalam studi sejarah dan kebudayaan manusia. Sejak dulu, para sarjana telah memperdebatkan gagasan terkait Modernisasi mulai dari tingkatan filosofis hingga dalam tataran praksisnya. Tema ini begitu menarik untuk dibahas karena modernisasi sangat berpengaruh dalam dinamika kehidupan. Banyak literatur dan teori yang menjelaskan tentang hakikat dari modernisasi serta implikasinya terhadap aspek-aspek kehidupan manusia baik dalam segi sosial politik, ekonomi, budaya, hingga aspek paling pribadi dalam kehidupan manusia yaitu agama.

Salah satu teori tentang hubungan antara agama dan modernisasi dicetuskan oleh Auguste Comte. Menurutnya, hubungan antara agama dan modernisasi adalah bahwa pola perkembangan peradaban manusia berkembang dari tahap teologis menuju tahap yang positif, dari pemikiran yang sifatnya abstrak metafisik menuju pemikiran konkret empiris. Artinya menurut Comte, semakin modern suatu peradaban, maka perlahan-lahan segala pemikiran yang mengandung unsur mistis, takhayul, bahkan  agama sekalipun akan digantikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan oleh manusia. Pandangan Comte ini banyak diafirmasi oleh para ahli lain setelahnya yang mengatakan bahwa agama perlahan-lahan akan semakin kehilangan relevansinya dan akan ditinggalkan oleh manusia secara keseluruhan.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia mulai menemukan jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapinya. Berbagai fenomena saat ini dapat dijelaskan dengan sains. Akibatnya, kini terjadi dikotomi antara wahyu sebagai pedoman utama dalam beragama dengan akal manusia yang diwakili oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Ajaran-ajaran agama mendapat ujian untuk membuktikan relevansi kandungannya di tengah dinamika perkembangan IPTEK dan permasalahan sosial yang begitu kompleks saat ini. Apabila ujian tersebut gagal dilewati, maka konsekuensinya tentu ajaran agama akan kehilangan otoritasnya dan perlahan-lahan akan ditinggalkan oleh penganutnya karena tidak membawa perubahan dan dampak apapun bagi kehidupan pribadinya. Dengan latar belakang seperti ini tentu agama harus merumuskan konsepnya dalam merespon arus modernisasi tersebut.

Banyak orang yang membenturkan bahwa modernisasi secara vis a vis selalu berhadapan dengan nilai-nilai agama, ibarat air dan minyak keduanya tidak mungkin untuk disatukan karena memiliki nilai-nilai yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa modernisasi, yang merupakan satu kesatuan dengan westernisasi, sekularisasi, dan segala macam bentuk produk pemikiran turunannya, adalah hasil dari budaya bangsa barat yang harus ditolak keberadaannya dalam praktik kehidupan kaum muslimin. Pernyataan ini meskipun sebagiannya benar, karena dalam praktiknya modernisasi juga membawa bias-bias kebudayaan barat, tetapi tidak sepenuhnya benar karena modernisasi sejatinya adalah sebuah konsekuensi perkembangan peradaban manusia seperti yang dijelaskan oleh Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave dan merupakan kelanjutan logis sejarah dari fase kehidupan manusia sejak zaman agraria di mana agama-agama yang kita kenal saat ini pertama kali lahir. Dalam bentuknya ia menyesuaikan dengan tempat dimana modernisasi itu tumbuh dan merupakan akumulasi dari keseluruhan yang telah dicapai oleh umat manusia.

Jika modernisasi adalah sebuah kepastian yang mesti terjadi, lalu bagaimana pandangan Islam dalam menyikapi hal tersebut?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan modernisasi. Secara istilah, modernisasi berasal dari kata “modern” yang berarti “mutakhir”, “baru”, atau “terkini”. Dengan demikian “modernisasi” secara sederhana adalah sebuah “sikap dan pandangan hidup yang menyesuaikan dengan tuntutan zaman”. Dengan menggunakan definisi seperti di atas, kita dapat memahami bahwa modernisasi sejalan dengan salah satu sifat dari agama Islam yaitu sesuai dengan segala tempat dan zaman. Kendatipun sumber-sumber ajaran agama bersifat tetap dan tidak berubah akan tetapi pemaknaan dan penafsiran agama akan selalu dituntut untuk menyesuaikan dengan tantangan zaman yang berubah-ubah.

Sebagai perbandingan, kita dapat merenungkan kembali apa yang menjadi firman ilahi terkait persoalan yang kita bahas berikut  ini

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” Fusshilat (41) : 53

Dalam tafsirnya terhadap ayat ini, Muhammad Asad menjelaskan ayat ini sebagai sebuah proses pengungkapan kebenaran untuk manusia melalui penyingkapan rahasia-rahasia alam semesta dalam jiwa manusia yang sifatnya masa depan. Artinya kita dapat memahami dari tafsir Muhammad Asad bahwa kemajuan IPTEK serta perkembangan sosial manusia, yang merupakan konsekuensi dari proses modernisasi, sebagai metode untuk mengerti dan memahami kebenaran ilahi secara lebih menyeluruh dan mendalam. Dengan demikian, modernisasi dapat kita pandang secara positif sebagai sarana untuk meneguhkan iman sekaligus sebagai cara untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Islam agar selalu menemukan relevansi dengan zaman yang kita hadapi.

Tentunya zaman akan terus berubah dan ajaran agama akan dituntut untuk melakukan penyesuaian dengan kondisi-kondisi empiris yang dihadapi manusia. Dengan demikian pembahasan seputar modernisasi dan agama akan terus terjadi hingga akhir zaman. Apa yang saat ini modern dan sesuai bagi kita akan menjadi terlihat tidak relevan untuk masa depan. Oleh karena itu, perlu dilakukan refleksi serta pembaharuan dalam melihat ajaran-ajaran agama kita saat ini agar agama dapat berdialog dengan realitas manusia dan memberikan pedoman tentang apa yang harus dilakukannya sehingga tidak muncul kesan bahwa agama adalah sesuatu yang primitif dan sebagai penghalang bagi kemajuan zaman.

Pandangan bahwa agama dapat berperan positif dalam memberikan pertimbangan etis dan moral terhadap kemajuan kebudayaan dan IPTEK di tengah arus modernisasi seperti ini sangatlah penting untuk diwujudkan. Dengan demikian Islam akan mewujudkan manfaatnya sebagai agama rahmatan lil ‘alamin yang sesuai di segala tempat dan zaman.

Wa fawqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim

Wallahu a’lam bish-showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here