Jangan Mau Ber-Islam yang Standar!

0
28

“Ketika kita sholat, lalu tiba-tiba mendapat inspirasi untuk paper. Itu sholat untuk Allah atau untuk dosen?” – Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M.Phil.

Samudra 12 Juni 2017 menghadirkan pembicara dari Wakil Rektor UNIDA Gontor, yaitu Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M.Phil. Tema yang dibawakan pada kajian kali ini adalah “Ulil Albab dan Aktualisasinya di Dunia Pendidikan Tinggi”. Sore itu Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M.Phil. membahas terlebih dahulu mengenai bagaimana cara kita memandang Islam.

Saat ini stigma masyarakat terhadap Islam tidaklah benar. Masyarakat memandang Islam hanya sebagai agama. Religion jika kita menyebutnya dalam Bahasa Inggris. Padahal arti dari kata religion ini adalah sebuah kepercayaan, sebuah hal yang fundamental. Jika diartikan di dunia Barat sana, religion akan dihubungkan dengan sebuah kepercayaan dan ritual. Jika kita menyebutnya sebagai religion, maka tidak ada aspek sosial dalam Islam. Padahal seperti yang kita ketahui sendiri, Islam telah menerangkan segala macam aspek kehidupan, mulai dari sosial, ekonomi, politik, yang semuanya ada dalam Al-Qur’an.

Definisi religion atau agama yang berarti kepercayaan ini tidak bisa dilabelkan pada semua agama. Jika hal ini kita labelkan pada semua agama, maka orang-orang di pelosok yang tidak memiliki Tuhan dan syariat telah dianggap memiliki sebuah agama, karena mereka memiliki sebuah kepercayaan.

Islam tidak hanya dilihat dari sisi spiritual saja. Islam merupakan akidah, syariat, dan juga akhlak. Dalam menjalankan Islam ini kita perlu menerapkan rukun Islam yang berjumlah lima. Namun kenyataannya tidak semua orang Islam melaksanakan rukun Islam ini. Ada juga yang melaksanakannya tanpa urutan yang benar atau melompati salah satu rukunnya. Contoh, banyak orang yang melakukan ibadah Haji, namun sholatnya masih tidak teratur.

Sekali pun kita sholat, sudah tingkat berapakah Islam kita? Sekali pun kita sudah sholat, apakah sholat kita diterima? Padahal sering sekali kita sholat, namun tidak sepenuhnya tertuju pada Allah swt.

Sholat merupakan suatu amalan ibadah yang dapat menghapus dosa yang lalu. Sholat lima waktu sesungguhnya merupakan suatu cara untuk menghapus dosa-dosa yang kita lakukan di antara waktu sholat itu. Namun hal ini dengan catatan, sholat yang kita lakukan adalah sholat yang penuh konsentrasi untuk Allah swt. Jika tidak, maka sholat ini tidak bisa menghapus dosa-dosa yang kita lakukan dan tidak bisa mencegah kita untuk berbuat dosa pula.

Sesungguhnya ada banyak amalan yang akan menghapus dosa-dosa kita. Seperti sholat jumat yang akan menghapus dosa selama satu minggu dan puasa yang akan menghapus dosa selama satu tahun. Namun semua itu jika diniatkan dan dilakukan dengan benar.

Dalam ber-Islam yang benar tentunya kita tidak hanya menerapkan rukun Islam, namun juga menerapkan rukun iman. Rukun iman ini tidak hanya dihafalkan dan diyakini saja, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan. Muslim yang hanya menerapkan rukun Islam dan rukun iman ala kadarnya pun hanya akan menjadi muslim yang biasa saja.

Allah menciptakan manusia dengan fitrah dapat menjadi “malaikat” maupun “iblis”. Jalan yang kita ambil itulah yang menentukan kualitas ber-Islam kita. Dalam menerapkan iman ini harus diikuti dengan sebuah rasa takwa. Iman merupakan suatu hal yang naik-turun. Saat ini kita beriman, mungkin saja esok kita sudah mengikuti jalan iblis. Oleh karena itu diperlukan takwa untuk menjaganya.

Takwa itu adalah sebuah rasa takut melanggar apa yang diperintahkan oleh Allah. Jika kita menjadi orang yang bertakwa maka kita seakan-akan melihat Allah dalam setiap hal yang kita lakukan. Jika belum bisa mencapai derajat ini, maka harus kita yakini bahwa Allah akan selalu melihat kita.