Dinamika Wacana Keislaman di Kalangan Mahasiswa

0
70

NOTULA KEGIATAN

RAMADHAN DI KAMPUS UNIVERSITAS GADJAH MADA 1440 H

Nama Kegiatan Tema Pembicara Hari, Tanggal Tempat Waktu Penulis Notula
Kajian Samudra #2 “Dinamika Wacana Keislaman di Kalangan Mahasiswa” Dr. Abdul Gaffar Karim, M.A. Selasa, 07 Mei 2019 Ruang Utama Masjid Kampus UGM 16.00 s.d. 17.00 Muhamad Taufik Rindo

Materi

            Ayat yang dikutip dan pernah menjadi ikon kaligrafi di Gelanggang UGM adalah bagian salah satu ayat dari Al-Imron, yaitu Q.S Ali Imron: 110. Dulu sebelum berdirinya masjid kampus UGM, dan kegiatan Jama’ah Shalahuddin ada di gelanggang, dilakukan di area terbuka, yang terdapat berbagai lomba yaitu lomba basket, breakdance. Hari Jum’at area terbuka diubah untuk Jum’atan, kanan kiri ada baliho kecil, entah dimana. dan juga terdapat ayat selanjutnya yang berkaitan juga pada Q.S Ali Imron:114 yang berkait dengan etos mengajak kebaikan.

            Mengutip ayat tersebut yang menekankan bahwa berbicara wacana kesilaman di kampus sebenarnya ada genuinity atau keaslian niat yang tidak bisa diragukan, yaitu bahwa landasan munculnya wacana dan pemikiran Islam di kampus yang dilandaskan peristiwa-peristiwa dengan tujuan menebarkan kebaikan. Yang perlu dijadikan pegangan, yaitu bahwa sama dengan kegiatan dakwah manapun dengan pemikiran Islam dimanapun yang kemungkinan besar niat menebarkan kebaikan. Ada keunikan bagaimana perkembangannya pemikiran Islam di kampus, melihat dalam sudut pandang politik. Pemikiran Islam di kampus sangat ditentukan oleh:

  1. Niat atau genuinity untuk melakukan dakwah.
  2. Pola-pola politik yang dilakukan oleh penguasa, dari dulu sampai sekarang sangat terkait dengan penguasa, yang mengatur umat beragama. Menegaskan bahwa penguasa juga selalu ikut mengontrol, motif ini berbeda dengan negara maju dan negara yang belum matang. Negara maju mengontrol hanya tindakan, tetapi negara belum matang mengontrol tindakan dan juga pikiran.

            Problema Negara Indonesia yang masih belajar demokrasi adalah pemerintah tidak hanya mengatur atau mengatur sedikit pemikiran kita yang mempengaruhi menentukan pemikiran Islam di Kampus. Restriksi pembatasan kampus yang sangat ketat berlangsung secara masif tahun 90-an, yang membatasi ruang berpikir mahasiswa, karena kalau mengendalikan masyarakat harus dengan mengendalikan mahasiswa yang mempunyai idealisme dan pemikiran kritis dan juga mengendalikan para pembelajar lain. Universitas sekuler itu diawasi agar tidak terjadi lahirnya pemikiran yang kiri. IAIN tempat lahirnya gagasan keislaman sebagai basis gerakan Islam yang dikenalkan orde baru. Yang tidak diawasi adalah yang tidak berbahaya. Di IAIN, pemikiran kiri tidak diawasi. Universitas sekuler diawasi karena pemikiran komunisme, marxisme, sosialisme, dst. Dan justru mahasiswa setengahnya didorong untuk ke masjid agar melemahkan gerakan di kampus. Masjid adalah ruang yang tidak diawasi atau pengawasan yang lebih longgar di kampus pada masa Orde Baru. Kendali penguasa sangat menentukan lahirnya wacana keislaman. Menyebabkan tahun 70-an, yang puncaknya tahun 80-an, dan bergejolak tahun 90-an, kampus sekuler terjadi karena pemikiran Islam.

            Salah satu penanda zamannya adalah terjadi peristiwa yang dengan mengumpulkan mahasiswa di Masjid Salman di ITB yang dikenal dengan Gerakan Salman, yaitu gerakan yang merupakan kunci pembuka dari kecurangan pemikiran Islam di kampus yang dianggap sekuler. Yang menyebabkan senior pendakwah kampus menjamin lembaga dakwah yang dititipkan pada kampus menjadi formula dakwah yang mengajak kebaikan menjauh kemunkaran. Ketika merantau, kita biasanya menganggap berada pada zona yang tidak nyaman, yang mendorong untuk mencari jalan atau zona yang nyaman. Salah satunya yaitu dengan lembaga dakwah. hal tersebut menunjukkan adanya perkembangan untuk mencari solusi individual.

            Pada era tahun 90-an, tidak ada lagi pengawasan atau kendali yang ketat, dan membuka akses, yang mendukung terbentuknya cendekiawan Islam di kampus, tapi tetap saja dengan niat politik di dalamnya. Setelah Gerakan Salman, muncul buku Ikhawanul Muslimin. Buku tersebut mudah diterima karena juga diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan pernah juga ingin diterapkan oleh Gus Dur di Indonesia. Era tahun 80-an, masuknya era Ikhwanul Muslimin dari buku yang mudah dijangkau dan dengan naskah yang mudah diterjemahkan, melahirkan gerakan KAMMI, gerakan Salafi, gerakan tahrir juga masuk.

            Karena kontrol ketat pemerintah, rivalitas muncul ketika pada masa Orde Baru, kontrol menjadi hilang, persaingan makin terasa hingga di kampus lain juga. Warna warni makin telihat, NU dan Muhammadiyah di kampus tidak terlalu bisa dijangkau. Ada lima blok pemikiran Islam pada saat itu. Tidak serta merta melarang, gagasan bisa dibendung dengan adanya gagasan lain. Sekarang lebih menarik karena dewasa ini tidak dipengaruhi oleh elemen, tapi dikuatkan karena adanya birokrasi. Organisasi intra kampus, yang mencari jabatan penting dan ambisi menguasai organisasi di kampus. Gerakan eksternal yang mempengaruhi pemikiran islam. Kampus menjadi lahan kepentingan politik. Ketika sudah berada diranah politik, Islam dikesampingkan. Gerakan organisasi Islam sebagai bumper moral dari pengaruh eksrternal yang mengganggu. Seberapa mandiri? Apa manfaat pengembangan ilmunya? Apakah makin berilmu atau menuup diri dari pintu-pintu ilmu?

 

Tanya Jawab

  1. Bagaimana kiat agar dakwah tidak ada kepentingan politik sehingga dakwah bisa diterima secara universal tidak hanya golongan tertentu saja?

Jawab:

Bahwa politik tidak perlu dihindari. Politik merupakan esensi kita sebagai manusia yang membedakan manusia dengan hewan. Rivalitas sesama hewan hanya sebatas makan dan seksualitas. Politik adalah anugerah yang memberikan manusia berada di atas lebih dari hewan. Politik elektroral tidak dikompromikan, mereka berebut kekuasan sedangkan kita yang bertengkar. Jadi, jika memahami konteks tersebut dakwah menjadi santai. Hindarilah jadi alat kepentingan elektoral, takutlah diperalat untuk kepentingan elektoral.

  1. Bagaimana agar organisasi ekstra kampus tidak diganggu dengan kepentingan politik? Memang benar ketika senior memberi titipan. Tapi bagaimana internalisasi yang harus ditonjolkan. Iklim sekarang memang sudah begitu. Jadi, sebagai pioneer bagaimana cara untuk menghindarinya?

Jawab:

Perlu refleksi sebagai aktivis. Sebagian pragmatis karena adanya uang. Dan juga mendirikan organisasi juga dengan uang. Unsur eksternal adanya titipan, dan mau memberi dukungan atau tidak, harus dijadikan evaluasi kita. Berapa besar menyadari problematika. Masalahnya tidak menyadari adanya kelebihan. Pragmatis adalah kekurangan kita juga. Harus less pragmatis more idealisme.

Unduh versi pdf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here