Dimensi Tekstual dan Kontekstual dalam Al-Quran

0
40

NOTULA KEGIATAN

RAMADHAN DI KAMPUS UNIVERSITAS GADJAH MADA 1440 H

Nama Kegiatan Tema Pembicara Hari, Tanggal Tempat Waktu Penulis Notula
Kajian Samudra #1 Dimensi Tekstual dan Konstekstual dalam Al-Quran Dr. Phil. Sahiron Muhammad, M.A.

 

Senin, 06 Mei 2019 Ruang Utama Masjid Kampus UGM 15.45 s.d. 17.30 Nila Wulandari

Materi

Arti tekstual dan kontekstual dalam Al-Qur’an, sebagai berikut

  1. Tekstual → yang tertera dalam teks,
  2. Kontekstual → terdiri dari 2 makna, yakni konteks sejarah dan ketika teks tersebut diwahyukan dalam konteks tertentu dan ditafsirkan sesuai dengan kondisi yang ada.
  • Yang harus dicamkan dalam diri adalah Al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat jibril pada malam Lailatul Qadr dalam bentuk bahasa arab selama berangsur-angsur, kurang lebih 23 tahun. Jadi, pernyataan ini menggambarkan bahwa Al-Qur’an bukan buatan dari Nabi Muhammad.
    • Definisi Al-Qur’an sebagai wahyu terdapat pada S Asy-Syuara:192-196, Q.S Al-Isra’: 106, Q.S Ali Imran: 3-4.
    • Wahyu illahi berfungsi sebagai rahmat bagi alam semesta (apabila dipahami, dipelajari lalu diamalkan) dapat menjadi way of life yang dijadikan pedoman dalam melaksanakan kewajiban kita baik sebagai hamba maupun sebagai makhluk sosial.
    • Fungsi Rahmatalil ‘alamin (Q.S Al Anbiya’ :107) diutusnya Nabi Muhammad merupakan rahmat, kasih sayang bagi seluruh alam, dalam waktu yang bersamaan Al-Qur’an juga dapat dipelajari sebagai ilmu bagi kehidupan manusia biasanya dimanfaatkan bagi oleh orang-orang yang secara umum tidak memiliki iman.
    • Al-Qur’an dalam surah Al-Baqarah, sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa.
    • Al-Qur’an sebagai syifa (Q.S Al Isra’: 82) dan Al-Qur’an sebagai dzikr, yang bermanfaat bagi manusia secara umumnya.
    • Pada intinya dengan berbagai definisi Al- Qur’an tersebut tetap saja menciptakan kebaikan bagi alam semesta bukan untuk kerusakan, serta ketika kita mempelajari segala perintah dan larangan yang ada di dalam Al-Qur’an adalah untuk kebaikan dalam hidup dunia dan akhirat.
  • Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat

Ayat Muhkamat merupakan ayat yang makna lahirnya sesuai dengan rasionalitas maupun akal yang sehat.

Keyword: ayatnya jelas dan mudah dipahami.

Ciri ciri :

  1. Seiring dengan ide moral, seperti keadilan, kemanusiaan (QS Al Hujurat: 49), persatuan, perdamaian, dll.
  2. Sesuai dengan temuan saintifik, tidak perlu diperdebatkan
  3. Common Sense yang sehat, misalnya berbuat jujur

Ayat Mutasyabihat merupakan ayat yang makna lahirnya tampak bertentangan dengan rasionalitas atau akal sehat.

Keyword: Ayatnya sulit untuk dipahami.

Misalnya ayat tentang perang, potong tangan, qisas. Dari contoh tersebut menimbulkan banyak pertanyaan yang diperlukan pemikiran mendalam. Yang perlu dicatat adalah bukan berarti ayat Al Qur’an mengikuti penemuan science. Namun lebih pada alurnya ayat Al-Qur’an dahulu baru kemudian dicari apakah ada penemuan yang berilham kepadanya.

QS Al Khafi 18:109 kalimat Allah maknanya sangat dalam sekali, jikalau dijelaskan maka tidak akan ada habisanya.

  • Jumlah kata ilmu yang ada dalam Al Qur’an, 77.450

Mengapa jumlah ayat harus dikalikan 4? Karena sebagian ulama berpendapat setiap kata dalam Al Qur’an memiliki makna (makna zahir/lahir, batin/metaforis, tekstual, hadd/moral, dan spritual) tetapi sebagian dari kita sering berhenti pada makna zahir.

  • Memahami Al Qur’an
  1. Menafsirkan Al Quran harus digunakan untuk kemaslahatan umat jangan untuk menciptakan kerusakan dalam umat apalagi mempora-porandakan umat.

Demi kebaikan umat manusia, kecaman → QS Ali Imran 3:7

  1. Memahami Al Qur’an secara komprehensif
  • Pelajari aspek bahasa, konteks historis baik yang mikro maupun yang makro misalnya, “ayat diturunkan dalam situasi apa”
  • Ada kisah inspiratif dari Rasulullah: Sahabat Rasul geram karena melihat Rasul diam saja ketika didzalimi oleh orang musyrik. Rasul hanya menjawab bahwa ia belum diperintahkan untuk berperang, sekalipun dalam kondisi terdesak kalau belum ada perintah dari Allah maka belum melakukannya. Sangat salah besar ketika Rasul atau Nabi suka berperang.
  • Keyword, meskipun ayat perang tetapi :
  1. bukan perang itu sendiri yang dilakukan di zaman sekarang, tetapi lebih kepada mengindari kedzaliman terhadap mayoritas maupun minoritas, oleh siapapun kepada siapapun jadi keadilan harus ditegakkan.
  2. Mengakui adanya pluralitas agama, makanya perang dalam zaman nabi dilakukan untuk menghormati tempt ibadah orang lain.
  3. Kedamaian
  4. Pemahaman kontekstual: memperhatikan bahasa Al Qur’an, memperhatikan historis, mengelaborasi makna ayat
  • Contoh pemahaman yang baik

Contoh Q.S Al Baqarah: 183, Kalau kita hanya analisa ayat secara tekstual maka hanya kewajiban berpuasa saja, kalau kontekstual, puasa berarti membentuk karakter dalam diri, misalnya

  1. Ketakwaan
  2. Kesabaran
  3. Keikhlasan
  4. Empati dan simpati terhadap orang lain utamanya fakir miskin
  5. Disiplin

Jangan hanya memahami teks Al-Qur’an secara tekstual saja, apalagi dihadapkan dalam ayat mutasyabihat, akibatnya adalah

  1. Terjebak pada sikap fundamentalis dan radikal
  2. Anti keragaman pemahaman
  3. Intoleran
  4. Tidak santun terhadap budaya.

Tanya Jawab

  1. Bagaimana ketika takaran moral yang ada dalam manusia, moralitas semu?

Jawab: Ada aturan tertentu dimasyarakat yang diatur dengan tujuan tertentu, lalu dikritisi, dan dibuat baru. Usahakan dalam membuat aturan memberikan kebaikan dan keuntungan kepada orang lain, aturan apapun pasti ada positif dan negatifnya usahakan manfaatnya lebih besar dari pada mudharatnya.

  1. Makna dalam Maqta’

Jawab: Maqta’ (spiritual) tergantug manuscript yang diedit oleh orang.

Makna secara keseluruhan adalah makna spiritual

  1. Bagaimana penafsiran yang kontekstual dalam qur’an utamanya QS Al Maidah:51

Jawab :

Beliau cerita tentang kisah saat diwawancarai oleh koran nasional tentang bagaimana memahami ayat QS Al Maidah 51, beliau sampai menulis artikel 3 halaman.

Al Maidah 3:51

Kata aulia’ artinya bukan pemimpin, tetapi teman setia beliau sudah menganalisa.

Diturunkan ketika akan terjadi perang badar, yahudi meminta izin kepada Nabi Muhammad untuk tidak ikut perang dan ingin pergi ke Dmaskus, lalu saat ke Damaskus bertemu dengan Abu Sofyan (saat itu belum masuk islam), lalu si Yahudi akan dibunuh, tetapi si Yahudi menyampaikan informasi rahasia bahwa pasukan Madinah dalam persiapan perang badar ada 300 orang, akhiranya Abu Sofyan mengutus orang agar memobilisasi pasukan di tambah menjadi 1000 pasukan. Ketika rasulullah mendengar hal tersebut,beliau mengutus salah seorang sahabatnya untuk mengecek informasi apakah benar, dan ternyata benar. Mulai saat itu sahabat nabi yang diutus tersebut tidak ingin menjadikan Yahudi seabagi teman setia, karena yahudi yang berkhianat terhadap madinah,

Maksud utamanya adalah bukan menjadikan larangan untuk berteman dengan Nasrani dan Yahudi, asal pertemanan diikat dengan perjanjian, tidak saling mengkhianati.

Ayat tentang pengkhianatan kelompok tertentu kepada Madinah bukan seputar agama tetapi orangnya.

Inti dari ayatnya adalah:

  1. Apapun kesepakatannya tidak boleh dikhianati.
  2. Konsekuansi ketika menghianati suatu kesepakatan maka kita tidak akan dipercaya lagi.

Unduh versi pdf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here