Agama dan Persoalan Kemanusiaan

0
213

Sepanjang sejarah manusia, agama memiliki peran penting dalam menentukan nilai-nilai serta pedoman moral dalam pola kehidupan manusia. Agama mengatur masalah hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia, semuanya membentuk pandangan dunia yang mempengaruhi aspek sikap dan tindakan yang berasal dari keyakinan terhadap nilai-nilai keagamaan. Al-Qur’an dalam banyak redaksi ayatnya selalu menyebutkan dan mengulang frasa “innalladzi na amanu wa amilush-sholihat“, bahwa iman sebagai sesuatu yang abstrak dan batiniah akan mewujud dan dibuktikan dalam bentuk konkrit melalui amal perbuatan baik yang dilakukan manusia.

Dengan perkembangan dan dinamika modernisasi zaman yang terus berkembang, agama kini dihadapkan dengan berbagai macam tantangan yang sedemikian kompleksnya. Kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan kerusakan moral kini menjadi hal yang harus dihadapi oleh umat-umat beragama. Ironisnya, alih-alih memberikan jawaban terhadap problematika kontemporer yang saat ini dihadapi manusia, agama seolah-olah menjadi salah satu penyebab dari masalah itu sendiri dengan munculnya kasus-kasus kekerasan, konflik, dan keributan yang diakibatkan perseteruan dan perdebatan yang terjadi dalam lingkup internal maupun eksternal agama.

Di titik inilah ajaran agama menghadapi tantangannya. Ibarat dua sisi yang berbeda dalam satu mata koin, agama mengajarkan nilai-nilai moral yang bersifat membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kemanusiaan, namun di sisi lain agama juga dapat menjadi justifikasi dan pembenaran atas praktik otoritarianisme dan penindasan yang terjadi di masyarakat, seperti yang digambarkan oleh A.N.Wilson dalam kutipannya berikut ini :

Agama adalah tragedi umat manusia. Ia mengajak kepada yang paling luhur, paling murni, paling tinggi dalam jiwa manusia. Namun hampir tidak ada satu agama pun yang tidak ikut bertanggung jawab atas berbagai peperangan, tirani, dan penindasan kebenaran. Agama mendorong orang untuk menganiaya sesamanya, untuk mengagungkan perasaan dan pendapat mereka sendiri atas perasaan dan pendapat orang lain, untuk mengklaim bagi diri mereka sendiri sebagai pemilik kebenaran.

Pernyataan Wilson ini perlu untuk digarisbawahi bukan sebagai pernyataan anti-agama, tetapi dapat disikapi dan dipandang secara bijak sebagai sebuah otokritik terhadap praktik penghayatan keagamaan yang terjadi saat ini. Ada keterpisahan antara nilai-nilai spiritual yang dimiliki oleh agama dengan persoalan kemanusiaan kontemporer yang dihadapi manusia. Akibatnya terjadi krisis relevansi dan perilaku split dimension dalam agama, karena terdapat dikotomi dan keterpisahan antara ajaran agama yang melangit dengan realitas sosial yang membumi. Ada anggapan bahwa keduanya merupakan hal yang tidak dapat disatukan.

Farid Esack adalah salah satu tokoh yang banyak menyoroti fenomena keagamaan seperti ini. Menurutnya, sebagai makhluk yang diciptakan dengan mengemban misi sebagai Khalifah di muka bumi. Manusia memiliki tanggung jawab untuk menjawab segala permasalahan sosial yang terjadi saat ini dengan didasari nilai-nilai kemanusiaan sebagai spirit pembebasan untuk umat manusia. Ukuran keimanan bukan hanya diukur dari ritual ibadah semata, tetapi juga dari kepedulian terhadap ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat saat ini dan upayanya dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih adil dan humanis.

Pemikiran Farid Esack ini merupakan salah satu aliran teologi yang disebut sebagai teologi pembebasan, yaitu sebuah paham keagamaan (teologi) yang menjadikan iman dan konsep tauhid sebagai basis gerakan untuk melakukan transformasi sosial untuk melakukan pembebasan terhadap belenggu-belenggu dan praktek penindasan yang tidak memanusiakan manusia. Farid Esack misalnya menggunakan paradigma ini sebagai spirit untuk membebaskan Afrika Selatan dari tirani politik apartheid yang mengeksploitasi warga kulit hitam pada waktu itu.

Ada salah satu kisah menarik, ketika dulu K.H. Ahmad Dahlan pernah pada suatu waktu mengajarkan surah Al-Ma’un secara berulang-ulang kepada murid-muridnya secara berulang pada setiap malam. Para muridnya pun terheran karena menurut mereka sudah  dan kemudian bertanya kepada Kyai Ahmad Dahlan.

Kami sudah menghafal dan memahami surah Al-Ma’un, tetapi mengapa kami terus diajari surah yang sama setiap hari?” tanya salah seorang muridnya.

Kyai Ahmad Dahlan pun menjawab dengan sederhana, “Kalian berkata sudah hafal dan faham makna dari surah Al-Ma’un tetapi sudahkah kalian mengamalkan isinya dengan membantu orang-orang miskin di sekitar kalian?”

Kelak tafsir Al-Ma’un ini menjadi basis gerakan-gerakan amal milik organisasi Muhammadiyah yang berkembang menjadi berbagai kegiatan sosial dalam bentuk pendidikan, rumah amal, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat lain yang tersebar di seluruh dunia.

Kini kita berada di tengah situasi pandemi serta di saat yang sama kita juga sedang melewati bulan Ramadhan dan menjalankan ibadah puasa. Protokol dan himbauan kesehatan memaksa kita untuk menjaga jarak dengan manusia yang lain dan menghilangkan suasana euforia dan semarak yang biasa dirasakan saat Ramadhan. Barangkali ada sebagian yang menemukan kenyamanan dan ketenangan dengan berada di rumah dengan keluarga masing-masing. Tetapi perlu diingat, bahwa di luar sana terdapat juga saudara-saudara kita yang kelaparan atau yg terluntang-luntung karena terkena PHK.

Di saat inilah sikap keagamaan kita akan diuji. Apakah kita merasa aman dan terjebak dengan sikap individualistis dan egoisme ala masyarakat modern dengan tidak memperdulikan nasib mereka yang saat ini sedang kesusahan dengan berbagi makanan, alat kesehatan, dan obat-obatan bagi mereka yang tidak mampu.

Pertanyaannya, sejauh mana kita dapat menjadikan ibadah sholat kita sebagai basis transformasi sosial untuk membebaskan manusia dari segala hal yang membelenggu kemanusiaannya? Apakah sholat yg kita lakukan membawa dampak terhadap mereka yang di sekitar kita? Sepertinya kutipan surah Al-Ma’un di bawah ini dapat kita renungi bersama untuk direfleksikan di tengah badai pandemi ini.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” – Surah Al-Ma’un (107) : 1-7

 

Wa fawqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim

Wallahu ‘alam bish-showwab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here