Peradaban Bukan Tentang Gedung, Namun Sebuah Nilai

“Letakkan dunia di genggaman tanganku, jangan di hatiku.” – Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Peradaban bukanlah tentang gedung-gedung megah, gaya berpakaian, atau mobil-mobil mewah yang memenuhi jagad raya. Namun, peradaban merupakan nilai-nilai di balik itu semua. Peradaban Islam sendiri merupakan peradaban yang mencerminkan nilai-nilai ke-Islam-an dalam kehidupan sehari-hari.

Pembacaan basmalah dan surah Ar-Rahman mengawali kajian Samudra Jumat sore, 09 Juni 2017. Kajian kali ini memang lebih sepi daripada biasanya. Walaupun begitu, Ustaz Fatan Ariful Ulun atau biasa disebut Ustaz Fatan Fantastik tetap bersemangat dalam memberikan materi. Tema Samudra kali ini adalah “Membangun Peradaban Muslim Berbasis Sejarah Kejayaan Islam”.

Ada banyak sekali teori mengenai apa itu peradaban. Namun, dalam Islam, ada satu teori yang menjadi kesepakatan bersama, yaitu bahwa peradaban adalah nilai-nilai yang diyakini seseorang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Peradaban tidak berhubungan dengan gedung besar. Secara umum peradaban berhubungan dengan nilai. Percuma gedungnya besar, jika tidak ada nilainya. Di zaman Islam, peradaban itu bisa dilihat setiap saat di diri Rasulullah dan para sahabat. Itulah mengapa orang-orang heran dengan Rasulullah dan para sahabat yang dapat menaklukkan dunia.

Peradaban Islam di zaman Rasulullah menjadi kokoh karena setiap orang memegang teguh prinsip-prinsip Islam dalam diri mereka. Dalam suatu pidato, Bung Karno mengatakan bahwa Tuhan itu kekal dan abadi. Tuhan itu satu. Kepercayaan terhadap Tuhan yang hanya satu inilah yang akan menjadi api dalam dada setiap insan. Api yang berkobar-kobar dalam dada setiap orang. Dengan adanya api ini, setiap orang, khususnya Muslim tidak lagi takut akan dunia, karena mereka percaya dengan memegang teguh prinsip Islam, Allah akan berada di samping mereka.

Hal seperti inilah yang seharusnya dipegang teguh setiap Muslim di dunia. Kita harus memiliki api yang berkobar ini. Contoh, seorang mahasiswa tidak akan takut mendapat nilai jelek jika ia memegang nilai-nilai Islam dalam dirinya. Jika ia memegang nilai-nilai Islam dalam dirinya, maka kuliahnya akan bertujuan sebagai ibadah. Jika seseorang telah berniat untuk ibadah, maka seharusnya ia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Dia akan berpikir bahwa Allah akan selalu melihatnya, sehingga ia sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Inilah contoh orang yang ihsan, yaitu orang yang seakan bisa melihat Allah secara langsung. Kalau pun hal ini masih belum bisa dilakukan, maka yakinlah bahwa Allah sedang melihat kita. Jika sudah seperti ini, maka tidak mungkin lagi kita berani untuk berbuat curang selama ujian.

Peradaban yang terkait dengan nilai-nilai ini tentunya berhubungan dengan karakter seseorang. Istilah karakter dalam Islam merujuk pada akhlak yang dimiliki. Rasul mengajarkan kepada kita bahwa jika kita bercermin, kita berdoa untuk mengindahkan karakter atau akhlak kita. Salah satu contoh akhlak yang baik adalah berbakti kepada orang tua.

Di zaman Nabi, terdapat seseorang bernama Uwais al Qarni yang begitu ingin bertemu dan mengaji langsung bersama Nabi. Namun, karena ibunya yang sakit, beliau pun membatalkan niatnya itu dan merawat ibunya. Atas kehendak Allah, ibunya pun meninggal dunia. Setelah itu, beliau pergi ke Madinah untuk menemui Nabi Muhammad SAW, namun Allah telah menghendaki untuk mengambil Nabi Muhammad kembali di sisi-Nya. Uwais al Qarni pun mendapatkan keistimewaan dengan dikabulkan semua permintaannya oleh Allah swt.

Akhlak lain yang mulia juga dimiliki oleh Shalahuddin al-Ayyubi yang tidak menumpahkan darah orang-orang yang menyerah di Palestina. Sama seperti Rasulullah yang menaklukkan Mekkah tanpa menumpahkan darah sedikit pun. Itulah akhlak yang begitu mulia, sebuah peradaban yang mulia.

Dalam membangun akhlak yang baik ini, tentunya ada peran orang tua yang sangat besar di sana. Keluarga merupakan madrasah pertama. Parenting yang tepat sasaran akan menjadikan anak tumbuh dewasa sesuai dengan apa yang diharapkan. Sayangnya banyak sesi orang tua ini yang tidak Islami. Banyak dari pengajaran fundamental ini yang bersifat non-Islami.

Lalu apakah perbedaan parenting Islam dan non-Islam? Perbedaan yang paling mencolok adalah masalah orientasi. Kalau parenting non-Islam orientasinya adalah dunia. Walaupun apa yang disampaikan mengenai Islam, jika orientasinya dunia, maka ia termasuk parenting non-Islam. Kalau parenting yang benar-benar Islami, maka orientasinya adalah akhirat.

Terdapat tiga golongan yang Allah bangunkan di alam kubur, golongan yang seakan-akan membangun peradaban yang Islam, namun tidak Islam.

  1. Orang yang rajin membaca Al-Qur’an, menghafalnya, namun niatnya bukan karena Allah.
  2. Orang yang mati di jalan Allah, namun tidak karena Allah.
  3. Orang yang banyak sedekah, namun tidak karena Allah.

Oleh karena itu, sekali lagi, peradaban bukan tentang fisik, bukan tentang duniawi, namun lebih dari itu, yaitu nilai-nilai yang dikandung di dalamnya. Mari kita letakkan dunia di genggaman tangan kita, bukan di hati kita seperti doa sahabat Nabi, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Kajian ini ditutup dengan sebuah closing statement dari Ustaz Fatan Ariful Ulun yang mengatakan bahwa sangat mungkin untuk membangun peradaban Islam kembali. Dan sangat mungkin hal itu berawal dari Indonesia.

Bagikan: