Pengembangan Sumber Daya Iptek sebagai Upaya Mewujudkan Bangsa Berdikari

“Tugas kita sebagai bangsa, adalah senantiasa membangun komitmen agar rahmat Allah tidak lepas dari bangsa ini.” (Edy Meiyanto)

Indikator bangsa dapat dilihat dari perkembanagan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menjadi salah satu unsur yang paling penting. Pakaian, komunikasi, bahkan fasilitas yang terdapat pada samudra pun tidak lepas dari kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari banyaknya pengembangan teknologi, jika disimak lebih jauh akan sangat sulit emnemukan muatan teknologi yang benar-benar berasal dari bangsa Indonesia. Semangat untuk mengembangkan teknologi harus dibangkitkan di kalangan masyarakat Indonesia. Meski tidak bisa 100%, tapi harus ada inisatif untuk mencari titik-titik komitmen apa yang harus kita lakukan di era sekarang.

Ramadhan sebagai bulan yang penuh berkah harus dijadikan ajang untuk bangkit oleh kaum Muslimin. Dua hal yang diajarkan Rasulullah untuk sealalu diamalkan, pertama membaca kalimat tauhid dan istigfar, kemudian meminta untuk dijauhkan dari api neraka. Mengasah komitmen di hari-hari agar mengengembangkan pribadi yang lebih baik. Rasulullah mengajarkan agar kita bisa lebih baik dari hari kemarin. Dari sisi normatif, harus dibangun komitmen dalam menjalankan agama Islam, komitmen kemudian akan turun ke ranah praktis. Misal, sebagai dosen aka diuji motivasinya, untuk apa menjadi dosen, diuji dengan berbagai tipe mahasiswa, sudah benarkah niat mengajar selama ini. Sebagai warga masyarakat, teman, suami, apakah sudah melakukan peran yang semestinya.

Kekhawatiran di tengah-tengah perkembangan Iptek yang semakin maju, harus didampingi dengan komitmen yang sungguh. Berbagai lapisan masyarakat harus saling membangun komitmen satu sama lain. Baik pemerintah yang memimpin maupun rakyat yang dipimpin. Jika diurai bentuk komitmen banyak sekali, namun komitmen yang paling utama apabila dikerucutkan akan merujuk pada satu hal tunggal, yaitu Lailahaillah. Sebagai manusia kita tidak akan mampu melakukan semua komitmen 100%, meski begitu Rasulluah berwasiat agar kita senantiasa mengucap istighfar untuk menutupi kekurangan kita. Tugas kita sebagai bangsa, adalah senantiasa membangun komitmen agar rahmat Allah tidak lepas dari bangsa ini. Dijaga, dikawal komitmen yang ada. Jadikan ajang Bulan Ramadhan untuk memperbaiki dan mebangun komitmen. Kalimat lailahaillah dan astagfirullah jadikan sebagai tameng melawan godaan yang ada. Membangun komitmen memerlukan pengorbanan baik kecil maupun besar.

Kita Bersatu Bermartabat Indonesiaku

Bagikan: