Pembebasan Al-Haram, Mekkah

Tidak ada seorang pun yang sanggup dan kuat menghadapi mereka.

1 Januari merupakan tahun baru masehi yang diperingati oleh hampir seluruh umat manusia di dunia. Namun, tahukah bahwa sesungguhnya terdapat sejarah besar Islam dalam tanggal tersebut?

Fathu Makkah (Pembebasan Mekkah) merupakan salah satu peristiwa bersejarah dalam kehidupan Islam. Ketika sebuah tempat kelahiran nabi besar Muhammad SAW, tempat yang begitu dicintai Beliau, tempat yang dipenuhi kemaksiatan dan berhala, setelah bertahun-tahun lamanya bisa disucikan dan dibebaskan.

Peristiwa ini terjadi tepatnya pada 10 Ramadhan 8 H atau 1 Januari 630 M. Nabi Muhammad SAW berangkat dari Madinah dengan membawa 10.000 pasukan untuk menaklukkan kota Mekkah. Peperangan ini tidak semata-mata terjadi begitu saja. Namun, berawal dari dilanggarnya perjanjian Hudaibiyyah yang telah disepakati oleh pihak kaum Muslimin dan kaum Quraisy.

Isi perjanjian Hudaibiyyah tersebut secara garis besar adalah: “Dengan nama Tuhan. Ini perjanjian antara Muhammad (SAW) dan Suhail bin ‘Amru, perwakilan Quraisy. Tidak ada peperangan dalam jangka waktu sepuluh tahun. Siapapun yang ingin mengikuti Muhammad (SAW), diperbolehkan secara bebas. Dan siapapun yang ingin mengikuti Quraisy, diperbolehkan secara bebas. Seorang pemuda, yang masih berayah atau berpenjaga, jika mengikuti Muhammad (SAW) tanpa izin, maka akan dikembalikan lagi ke ayahnya dan penjaganya. Bila seorang mengikuti Quraisy, maka ia tidak akan dikembalikan. Tahun ini Muhammad (SAW) akan kembali ke Madinah. Tapi tahun depan, mereka dapat masuk ke Mekkah, untuk melakukan tawaf disana selama tiga hari. Selama tiga hari itu, penduduk Quraisy akan mundur ke bukit-bukit. Mereka haruslah tidak bersenjata saat memasuki Mekkah.”[1]

Namun kenyataannya, dalam kurun waktu dua tahun saja, telah terjadi pelanggaran atas perjanjian itu. Bani Bakr yang merupakan sekutu dari kaum Quraisy menyerang Bani Khuza’ah yang merupakan sekutu dari kaum Muslimin. Kaum Quraisy bahkan ikut membantu Bani Bakr dalam penyerangan tersebut. Hingga diutuslah pemimpin dari Bani Khuza’ah untuk menghadap Rasulullah di Madinah dan menyampaikan berita penyerangan Bani Bakr terhadap Bani Khuza’ah.

Menanggapi hal tersebut, Rasulullah telah bersiap untuk menaklukkan kota Mekkah, sehingga dikirim sebuah pemberitahuan kepada kaum Quraisy tentang apa yang akan mereka lakukan terkait pelanggaran tersebut.

  1. Kaum Quraisy harus membayar diyat (denda).
  2. Kaum Quraisy harus memutuskan hubungan dengan Bani Bakar.
  3. Kaum Quraisy menyatakan perjanjian Hudaibiyah telah batal dan tidak berlaku lagi. Hal itu berarti kaum muslimin akan menyerang Makkah.[2]

Kaum Quraisy memilih pilihan ketiga dan jadilah kaum Muslimin bersiap menyerang Mekkah. Dengan pilihan tersebut, kaum Quraisy mendadak ingin mengganti pilihannya dan mengutus Abu Sufyan untuk datang menghadap Rasulullah dan berunding ulang atas keputusan ini. Rasulullah tidak peduli dan menolak permintaan Abu Sufyan.

Jadilah kaum Muslimin dipimpin oleh Rasulullah berangkat menuju Mekkah dari Madinah dengan 10.000 pasukan yang dibagi menjadi beberapa bagian oleh Rasulullah saat sampai di Dzu Thuwa.

  1. Khalid bin Walid memimpin pasukan untuk memasuki Mekkah dari bagian bawah,
  2. Zubair bin Awwam memimpin pasukan memasuki Mekkah bagian atas dari bukit Kada’, dan menegakkan bendera di Al-Hajun,
  3. Abu Ubaidah bin al-Jarrah memimpin pasukan dari tengah-tengah lembah hingga sampai ke Mekkah. Menurut pendapat lain, empat bagian pasukan, bagian yang keempat dipimpin oleh
  4. Sa’ad bin ‘Ubadah memimpin orang madinah supaya memasuki Mekkah dari arah sebelah barat.[3]

Rasulullah pun memasuki Mekkah dengan dikelilingi pasukan Anshar dan Muhajirin. Kedua pasukan tersebut sangat banyak dan kuat. Bahkan Abu Sufyan yang telah masuk Islam memuji mereka dengan mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang sanggup dan kuat menghadapi mereka.”

Setelah itu peristiwa pembebasan Mekkah berlangsung damai dan tanpa pertumpahan darah. Kecuali dari pasukan Khalid bin Walid yang telah dihadang oleh kaum Musyrikin, diantaranya Ikrimah bin Abu Jahal dan Shofwan bin Umaiyah.

Peristiwa Fathu Mekkah (Pembebasan Mekkah) memang merupakan salah satu peristiwa bersejarah dalam perkembangan Islam di bumi. Peristiwa tersebut juga memberikan nilai-nilai yang dapat kita ambil, dan yang paling utama adalah rasa belas kasih dan lemah lembut yang dimiliki Rasulullah. Dalam peristiwa ini sesungguhnya Rasulullah akan menghukum mati 17 orang karena kejahatan mereka yang begitu besar, di antaranya Abdullah bin Abi’s-Sarh, orang yang dulu sudah masuk Islam dan menuliskan wahyu, namun berbalik murtad dan menggembor-gemborkan bahwa dia telah memalsukan wahyu itu waktu ia menuliskannya, juga Abdullah bin Khatal, yang dulu sudah masuk Islam kemudian murtad juga setelah ia membunuh salah seorang bekas budak dan menyuruh budaknya yang perempuan—Fartana dan temannya—menyanyi-nyanyi mengejek Muhammad, lalu Ikrimah bin Abi Jahl, orang yang paling keras memusuhi Nabi Muhammad sampai waktu Khalid bin Walid datang memasuki Mekkah dari bawah pun tiada henti-hentinya ia mengadakan permusuhan.[4]

Namun, walau begitu, Rasulullah merupakan pribadi yang penuh dengan belas kasih. Beliau tidak menghukum kaum Quraisy dengan hukuman apa pun, bahkan 17 orang yang akan dihukum mati juga diampuni hingga tersisa empat orang saja yang akan dihukum mati, yaitu Huwairith yang telah mengganggu Zainab, puteri Nabi sepulangnya dari Mekkah ke Madinah, serta dua orang yang sudah masuk Islam lalu melakukan kejahatan dengan mengadakan pembunuhan di Madinah dan kemudian melarikan diri ke Mekkah dan menjadi murtad, juga dua orang budak perempuan Ibnu Khatal yang selalu mengganggu Nabi dengan nyanyia-nyanyiannya. Yang seorang dari mereka ini lari, dan seorang lagi diberi pengampunan pada akhirnya.[4]

Dan itulah sebuah kisah mengenai terbebasnya sebuah tanah haram, tanah yang begitu dicintai Rasulullah SAW, yang akhirnya menjadi pusat perkembangan Islam selanjutnya. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah tersebut.

 

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Hudaibiyyah

[2] http://al-badar.net/kisah-sejarah-penaklukan-kota-mekkah-fathu-makkah/

[3]  Dr. Muhammad Husain Haekal, Ph. D, Sejarah Hidup Muhammad (terjemah oleh Ali Audah dari Hayatu Muhammad), Penerbit Tintamas, Jakarta, 1984, Cet. ke-9, hal. 508.)

[4] http://media.isnet.org/kmi/islam/Haekal/Muhammad/Bebas3.html

 

Referensi:

Dr. Muhammad Husain Haekal, Ph. D, Sejarah Hidup Muhammad (terjemah oleh Ali Audah dari Hayatu Muhammad), Penerbit Tintamas, Jakarta, 1984, Cet. ke-9, hal. 508.)

http://al-badar.net/kisah-sejarah-penaklukan-kota-mekkah-fathu-makkah/

https://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Hudaibiyyah

http://media.isnet.org/kmi/islam/Haekal/Muhammad/Bebas3.html

http://www.majelissirah.com/2017/01/fathu-makkah-dan-revolusi-damai.html

Fathu Makkah: Pelajaran dari Penaklukan Kota Mekkah

 

 

Bagikan: