SEKILAS INFO
  • 2 bulan yang lalu - KETENTUAN PESERTA NASYID DAN MTQ (MUSABAQAH TILAWATIL QUR’AN) FESTIVAL CENDEKIA MUSLIM RAMADHAN DI KAMPUS 1439 H UNIVERSITAS GADJAH MADA (cek dibagian pengumuman)
  • 2 bulan yang lalu - PENGUMUMAN LOLOS ABSTRAK LOMBA KARYA TULIS AL-QURAN FESTIVAL CENDEKIA MUSLIM (cek dibagian pengumuman)
  • 4 bulan yang lalu - Pengumuman panitia Ramadhan di Kampus UGM 1439H sudah tersedia, silahkan cek di laman pengumuman kami atau buka ugm.id/panitiardk39
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Sabtu, 23 06 2018 Juni 2018 >

IMSYAK 04:01
SUBUH 04:15
DZUHUR 11:45
ASHAR 15:06
MAGHRIB 17:57
ISYA 18:55
Diterbitkan :
Kategori : Update

 

KABUMA #18
Minggu, 03 Juni 2018
Pukul 15.45 – 17.30 WIB
Habiburrahman El-Shirazy, Lc., M.A., Pg.D
“Membangun Kewibawaan Intelektual dengan Mempererat Persahabatan pada Literasi”
Notulis oleh Hanifah Makarim

 

MATERI
Allah meminta pada umatnya untuk mensyukuri nikmatnya, salah satunya adalah nikmat akal dan pikiran. Hal ini yang membedakan manusia dan hewan. Ahli jaman dulu, mendefinisikan manusia adalah hewan yang dapat berbicara. Juga dapat berkomunikasi, berbicara dan berfikir. Ketika manusia tidak mau berfikir maka manusia berada pada level yang sama dengan hewan.
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Quran. Secara bahasa, Al-Quran berarti bacalah. Umat ini haruslah menjadi umat yang paling banyak membaca. Wahyu yang diturunkan pertama kali oleh Allah kepada Muhammad adalah surah Al-Alaq ayat 1-5 (iqra’ artinya : bacalah). Dalam surah tersebut, perintah membaca (Iqra) diulang 2x. Hal tersebut berarti bahwa perintah membaca sangat ditekankan oleh Allah kepada umatnya. Pada ayat ketiga, ulama tafsir meneliti : mengapa kata Iqra’ dikaitkan dengan kata “akram” ? ternyata karena Allah ingin memberikan isyarat bahwa orang-orang yang mau membaca akan dimuliakan oleh Allah. Pada ayat ke empat, makna : Qalam secara bahasa adalah pena, sedangkan ulama menafsirkan makna Qalam lebih luas dari hanya sekedar pena. Qalam bermakna : al qiroatu wal kitabah (membaca dan menulis).
Tidak ada cara yang lebih dahyat untuk mentransfer ilmu di dunia ini dari satu pikiran ke pikiran yang lain, kecuali dengan membaca dan menulis untuk menyampaikan ilmu. Jika memahami tentang hal tsb seharusnya umat ini menjadi umat nomer 1 di dunia ini.
Literasi berawal dari membaca dan menulis. Literasi dalam bahasa arab disebut “Mahwil ummiyah”. Literasi mencakup literasi informasi, komunikasi, dan ilmu pengetahuan. Kunci literasi di surah Al Alaq 1-5. Sebuah bangsa yang transformasi ilmu pengetahuannya baik dan dapat dikonsumsi masyarakatnya dengan cepat maka bangsa tsb akan lebih maju. Terdapat 2 pembagian bangsa terkait kemampuan literasinya, yaitu bangsa yang telah mengenal tulisan disebut dengan bangsa yang telah mengalami zaman sejarah dan bangsa yang belum mengenal tulisan disebut bangsa pra sejarah. Ada negara yang sudah maju tetapi transformasi ilmu pengetahuannya sulit. Contoh : ‘Mezo potamia’ terkait UU hamurabi (yang di tulis pada batu besar), menyebabkan ilmu pengetahuan sulit ditransfer.

Bangsa Mesir, awalnya mereka menulis ilmu pengetahuan di dinding batu dan piramid dengan huruf hieroglif. Namun setelah itu bangsa Mesir menemukan cara menulis yang baru dengan membuat “kertas papyrus”. Sehingga Mesir menjadi negara yang lebih cepat transfer ilmu pengetahuannya.
China juga tidak kalah majunya dengan Mesir. Teknologi menulis china dahulu di bilah-bilah bambu. Terjadi reformasi literasi di china dengan dibuatnya kertas dari bambu. Hingga, China diakui sebagai penemu kertas yang pertama.
SEJARAH LITERASI ISLAM
Literasi Islam berawal di Jazirah Arab. Bangsa arab zaman dahulu banyak yang buta huruf tapi mereka memiliki hafalan yang banyak dan syair sastra yang baik. Karena belum memiliki kemampuan literasi, masyarakat arab dipandang sebelah mata. Tetapi ada beberapa daerah yang menjadi perebutan bangsa lain, yaitu Yaman dan Syam. Yaman terkenal sebagai daerah pengahasil madu terbaik di dunia. Syam (palestina) daerah yang sangat subur, penghasil : gandum, buah tin, zaitun, dan kurma paling enak.
Kemudian, masyarakat Arab berubah total ketika Allah menurunkan Al Quran. Yang dulunya dipandang sebelah mata menjadi masyarakat yang terpandang. Menjadi bangsa yang berkembang ilmu pengetahuannya. Hingga dalam keadaan genting (perang) sekalipun, dalam Al-Quran masih mengingatkan ummatnya untuk sebagian jihad fisabilillah, dan sebagian kelompok yang lain tetap belajar tentang ilmu. Agar dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat luas.
Ketika Perang Badar, Rasulullah dan tentara islam dapat menawan beberapa tokoh dari kafir Quraisy. Ketika ditawan rasul memberi opsi kepada tawanan tersebut, yaitu ditebus atau bagi kafir quraisy yang dapat membaca dan menulis dan mau mengajarkan ke masyarakat Madinah maka ia akan dibebaskan. Sepanjang sejarah, hanya rasulullah yang menggunakan cara ini karena Rasulullah menganggap ilmu itu sangat penting untuk umat islam. Contoh lain, Sahabat rasul diperintah untuk mempelajari bahasa ibrani karena rasul tahu islam akan berhubungan dengan orang yahudi. Kisah tersebut itu menjadi motivasi umat islam untuk mempelajari ilmu.
Zaman telah berganti, Ilmu sahabat nabi dialirkan kepada para tabi’in (kaum yang haus akan ilmu). Pada masa itu, Ilmu yang paling meledak adalah ilmu untuk memahami Al-Quran dan As Sunnah. Ummat pada masa ini sangat tamak akan ilmu pengetahuan. Hingga ilmu pengetahuan yang telah mati, dihidupkan kembali. Ilmu dicari di seluruh dunia hingga menemukan tulisan filsuf-filsuf di dunia. Salah satu pencapaian yang luar biasa adalah mereka dapat menterjemahkan buku karya Aristoteles.
Saat ilmu pengetahuan bergabung dengan teknologi, terjadilah sebuah kerjasama. Akhirnya umat islam dapat membuat kertas. Banyak ilmu yang mulai dibukukan seperti ilmu tentang kacamata optik, bedah tulang, cara menghitung astronomi dengan sangat presisi, dsb. Ketika itu, literasi umat islam diatas umat yang lain, umat islam menjadi umat yang paling dahsyat. Kemampuan bertahan membaca umat islam tidak tertandingi. Hingga akhirnya dunia eropa belajar ke umat islam. Berdirilah universitas-universitas di dunia setelah universitas di Maroko dan Al-Azhar, mesir. Beberapa tahun kemudian Eropa memasuki masa pencerahan setelah ‘Guttenberg’ menemukan mesin cetak. Sejak itulah dunia barat meninggalkan umat islam karena islam masih menulis buku dengan tangan, sedangkan mereka telah di cetak. Sehingga transfer ilmu pengetahuan mereka lebih cepat. Hingga akhirnya mesin cetak masuk ke islam tapi telah tertinggal jauh hingga saat ini.
Jika kita mau memiliki kewibawaan intelektual seperti penduduk dunia barat maka kita harus mengimbangi literasi mereka. Contoh di Amerika, perpustakaan di Amerika buka 24 jam. Jam 1 malam perpustakaan Amerika masih sangat ramai dipenuhi para mahasiswanya. Jika ingin menandingi mereka maka harus meningkatkan literasi kita. Allah maha adil, siapa yang lebih dalam ilmu membacanya maka dia akan berkembang lebih pesat dari yang lain.
PR bangsa Indonesia, ‘Apakah kita akan menjadi konsumen terus?’

PERTANYAAN
1. Apa rahasia ust tentang semangat dalam dunia literasi?
Jawab :
Ketika masih sekolah di pesantren, membaca hanya menjadi hobi. Setelah mendapat kesempatan sekolah di Al-Azhar, mendapat semangat dari kota Mesir itu sendiri. Banyak jejak-jejak keislaman ditemukan di Mesir, sehingga saya merasa “menemukan tempat menulis” buku-buku yang saya baca dulu di pesantren. Hal tersebut menjadikan motivasi saya untuk lebih mendalami literasi islam di mesir. Ketika diingatkan dengan kitab-kitab yang dicetak para ulama terdahulu, itu juga menjadikan saya bersemangat berliterasi.
Di Mesir, terdapat pameran buku paling besar di dunia (menurut saya : ust. Habiburrahman). Sekitar 5 hektar, dipenuhi oleh buku. Hampir semua buku ada. Buku islam masa lampau hingga buku kontemporer. Lebih semangat lagi, ketika membaca buku para ulama.
Saat malas membaca, saya teringat bahwa di negara barat setiap hari ada sastrawan yang selalu menulis walau tidak jelas. Sehingga dari hal itu, saya mulai semangat lagi dalam membaca.
Tips :
Khatamkan kunci-kunci pengetahuan. Agar dapat bersaing. Harus dapat merujuk langsung pada buku dengan bahasa utama (bahasa asing) sebagai referensi utama. Sehingga dapat memahami buku tanpa ada interpretasi dari pihak lain. Jika belum mengasai bahasa asing, masih ada waktu untuk memperbaiki bahasa asing, mari memperbaikinya untuk kemampuan literasi yang lebih baik.

2. Di Indonesia kejayaan islam tidak tersampaikan dengan baik kepada generasi sekarang. Apa yang harus dilakukan untuk dapat memberikan pengetahuan kepada generasi sekarang bahwa islam pernah berjaya melalui literasinya, sehingga generasi sekarang dapat bersemangat untuk meningkatkan literasi?
Jawab:
Itu yang menjadi PR kita. Harus menumbuhkan semangat literasi pada diri sendiri terlebih dahulu, untuk dapat menurunkan kisah-kisah para ulama terdahulu ke generasi sekarang.
3. Apakah membaca literasi klasik dapat terintegrasi dengan literasi islam ?
Jawab :
Literasi itu sangat umum. Tidak masalah untuk membaca semua buku. Ada hikmah di ambil. Tapi jangan hanya berhenti di situ. Dikembangkan ke buku-buku yang lain. Dan “harus mengkhatamkan buku di bidang masing-masing”.

SebelumnyaMewujudkan Pengembangan Bioetika di Indonesia
Membangun Kewibawaan Intelektual dengan Mempererat Persahabatan pada Literasi
  KABUMA #18 Minggu, 03 Juni 2018 Pukul 15.45 – 17.30 WIB Habiburrahman El-Shirazy, Lc., M.A., Pg.D “Membangun Kewibawaan Intelektual dengan Mempererat Persahabatan pada Literasi” Notulis oleh Hanifah Makarim  ...
Mewujudkan Pengembangan Bioetika di Indonesia
KABUMA #19 Senin, 4 Juni 2018 16.57 WIB s.d 17.28 WIB Dr. Nur Azid Mahardinata “Mewujudkan Pengembangan Bioetika di Indonesia” Notulis oleh Latifa Sakti Bintari Pembukaan: Gambaran mengenai bioetika dimulai...
Positive Parenting: Keluarga sebagai Pondasi Awal Kebermartabatan Indonesia
SAMUDRA #20 Selasa, 5 Juni 2018 Pukul 16.30 – 17.30 WIB Ust. Fauzi Adhim “Positive Parenting: Keluarga sebagai Pondasi Awal Kebermartabatan Indonesia” Notulensi oleh Cindy Nurmala MATERI Kita memiliki tanggung...
Mewujudkan Kepemimpinan Keilmuan melalui Sinergitas Ilmu dan Islam: Kilas Balik terhadap Dinasti Abbasiyah
KABUMA #17 Sabtu, 2 Juni 2018 16.00 s.d. 17.15 Dr. Tiar Anwar Bachtiar “Mewujudkan Kepemimpinan Keilmuan melalui Sinergitas Ilmu dan Islam: Kilas Balik terhadap Dinasti Abbasiyah” Notulis oleh Amania Ittaqo...
Ekonomi Syariah : Pondasi Ekonomi Umat Islam
KABUMA #16 Jum’at, 1 Juni 2018 16.57 WIB s.d 17.28 WIB Ir. Adiwarman Azwar Karim, S.EE., M.B.A., M.A.E.P. “Ekonomi Syariah : Pondasi Ekonomi Umat Islam” Notulis oleh Latifa Sakti Bintari...
Kewibawaan Ilmu Pengetahuan dalam Keilmuan Islam
KABUMA #15 Kamis, 31 Mei 2018 15.45 s.d. 17.15 Dr. Susanto, M.A. “Kewibawaan Ilmu Pengetahuan dalam Keilmuan Islam” Notulis oleh Dwi Ratnaningtyas MATERI Kenapa anak butuh kreatif? Apakah ada permasalahan...


WhatsApp chat