SEKILAS INFO
  • 7 bulan yang lalu - KETENTUAN PESERTA NASYID DAN MTQ (MUSABAQAH TILAWATIL QUR’AN) FESTIVAL CENDEKIA MUSLIM RAMADHAN DI KAMPUS 1439 H UNIVERSITAS GADJAH MADA (cek dibagian pengumuman)
  • 7 bulan yang lalu - PENGUMUMAN LOLOS ABSTRAK LOMBA KARYA TULIS AL-QURAN FESTIVAL CENDEKIA MUSLIM (cek dibagian pengumuman)
  • 9 bulan yang lalu - Pengumuman panitia Ramadhan di Kampus UGM 1439H sudah tersedia, silahkan cek di laman pengumuman kami atau buka ugm.id/panitiardk39
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Sabtu, 17 11 2018 November 2018 >

IMSYAK 04:02
SUBUH 04:16
DZUHUR 11:45
ASHAR 15:05
MAGHRIB 17:57
ISYA 18:55
Diterbitkan :
Kategori : Update

KABUMA #15
Kamis, 31 Mei 2018
15.45 s.d. 17.15
Dr. Susanto, M.A.
“Kewibawaan Ilmu Pengetahuan dalam Keilmuan Islam”
Notulis oleh Dwi Ratnaningtyas

MATERI
Kenapa anak butuh kreatif? Apakah ada permasalahan kreatif anak? Masalah dalam tren perkembangan kreatifitas anak saat ini. mengembangkan kreativitas anak berdaasarkan potensi dan minat anak. Masalah tentang perkembangan anak saat ini, yang pertama perilaku pengasuhan. Banyak kasus yang masuk baik online maupun offline. Contoh dalam memilih sekolah, tidak semua arti memfasilitasi anaknya berdasarkan minat masing-masing. Contoh saat mengambil jurusan kuliah. Survey 2015, cara memilih sekolah dari ibu dan anak berbeda. Ibu lebih memilih “gedungnya bagus tidak” kalau ayah melihat ”visi misi dan kredibilitas sekolah tersebut.” Kualitas pengasuhan akan mempengaruhi kualitas kreativitas anak.
Kedua, kejahatan berbasis siber. Anak jaman sekarang banyak yang menggunakan gadget, mereka tidak tau literasi. penggunaan medsos, dll. Banyak kejahatan yang terjadi akibat dari media sosial. Yang ketiga adalah games. Games yang bermuatan sadisme, kejahatan, dll mempengaruhi perilaku mereka. Banyak anak yang bermasalah dengan games. Yang keempat adalah budaya instan dan hedonisme. Mempengaruhi kualitas sumber daya manusia kita ke depan. Terakhir adalah pornografi, sebagai kasus hukum (anak sebagai pelaku, saksi, korban [tidak boleh dipublish identitasnya, ex: nama anak, sekolah, alamat]), perilaku pengasuhan, ciber dan pornografi.

TANYA JAWAB
1. Fulan
Jaman saya SD, saya dan teman-teman saya suka bermain smackdown. Bagaimana agar anak-anak jaman sekarang tidak seperti itu?
Jawab
Jangan sampai tontonan seperti itu menjadi konsumsi publik. Mereka kenapa gitu? Mereka tidak tahu, tidak ada fasillitas dari orang tua, dan efek dari teman. Konselingnya yang pertama adalah dengan keluarga. Beri pilihan bermain yang positif, jangan hanya melarang mereka bermain smackdown.

SESI SETELAH TARAWIH

Yang terpenting adalah relasi antara siswa dengan guru. Di sini, terdapat undang-undang untuk guru dan dosen. Ada undang-undang yang memposisikan guru sebagai korban dan guru sebagai pelaku. Dalam konteks guru sebagai korban, negara harus hadir. Di pihak lain, ketika guru sebagai pelaku, ada pasal pemberatan pidana sebanyak 1/3 dari pidana, sama seperti orang tua. Memang sekarang berat menjadi guru-guru. Kasus-kasus guru sekarang banyak yang ditangani tidak sesuai dengan kasus lainnya. Ada penanganan khusus bagi masalah yang masih dalam lingkup etik.
Seringkali masyarakat tidak imbang dalam memahami undang-undang perlindungan anak. Isu-isu yang kini terus mencuat adalah isu yang terkait kejahatan yang berbasis siber. Kejahatan ini telah menjadi masalah serius karena kejahatan ini berasal dari orang luar negeri. Seperti contoh, di Bandung, ada orang yang disuruh untuk membuat konten oleh orang luar negeri. Ini tidak hanya untuk anak saja tetapi juga berbahaya bagi ketahanan nasional.

Penanya 1
Bapak sempat menyinggung undang-undang kejahatan sosial dan tentang kebiri, apakah pasal itu sudah tuntas atau belum terselesaikan sampai saat ini?
Memang pembahasan tersebut masih alot di tingkat pemerintah terutama dalam proses kebiri oleh dokter. Mahdzab kebiri Indonesia berbeda dengan Inggris dan Australia. Indonesia sifatnya mandatory yang berdasarkan undang-undang atau putusan hakim. Kalau di Inggris bersifat volunteri. Kebiri di Indonesia butuh assesstment oleh ahli psikologi. Sebenarnya perspektif kebiri ini adalah merehabilitasi agar yang bersangkutan tidak mengulangi lagi tindakannya, tetapi tidak menghilangkan hasrat seksual.
Sebenarnya UU ini telah didesak untuk segera diselesaikan.

Penanya 2
Saya tertarik dengan bully. Orang yang dibully menjadi program bully dan menjadi bulliyers. Masalah bullying ini di dunia, juga menajdi masalah yang belum terselesaikan. Lalu, bagaimana dari pihak KPAI? Bagaimana jika kita membela yang membully tetapi itu menjadi korban bullying?
Sebenarnya kasus bullying di Indonesia lebih rendah daripada Jepang. Peraturan menteri pendidikan, terkait penanggulangan kekerasan di pendidikan sebenarnya banyak peraturan yang mengatur bullying. Sekitar 75% korban bullying menjadi orang yang membully di kemudian hari.
Untuk menghilangkan perilaku bully bagi seseorang yang membully harus melihat dengan sepenuhnya dan sisi profiling (sisi historis). Kemudian dilihat juga lingkungannya thd bully. Kemudian dilihat attensinya lingkungan terhadap bullying. Kalau misalnya menghakimi bullying tapi lingkungannya masih belum ada intervensi terhadap bullying. Menghilangkan bisa melalui pengkondisian lingkungan (teman sebaya, pola asuh, keluarga).

Penanya 3
Saya sering melihat anak-anak jalanan semakin banyak. Tanda-tanda itu bisa kita lihat warna rambutnya mejikuhibiniu, ada tindik di bagian tubuhnya, bertato, dan sebagainya. Ini sebenarnya korban broken home atau geng bullying atau apa? Seperti yang tercantum di UUD 45, anak jalanan dibina oleh pemerintah, bagaimana korelasinya? Lalu bagaimana cara mengatasinya? Saya juga pernah mengasuh anak dan merasakan sulitnya mendidik anak kembali ke jalan yang lurus.
KPAI pernah melakukan riset tentang anak jalanan. Kenapa yang bersangkutan suka di jalanan. Faktornya cukup variatif.
1. Ada kelompok anak yang mengekploitasi anak. Inilah yang harus diintervensi hukum.
2. Anak-anak tersebut diajak oleh teman-temannya. Ada pengaruh dari lingkungan sebayanya.
3. Anak-anak tersebut membantu orang tua (semangat ekonomi). Intervensinya bisa diselesaikan ekonominya keluarga.
4. Yang bersangkutan hidup di jalanan karena merasa sudah nyaman hidup di jalanan. Intervensi ke kelompok ini tidak mudah, karena cara berpikirnya harus dirubah. Ini intervensinya bisa melihat kepada intervensi kelompok satu dan dua. Kebanyakan anak pang atau jalanan kebanyakan berasal dari broken home, ekonomi, dll.
Paradigm terbaru kita ada yang berbeda tentang anak. Jadi tidak diasuh oleh pemerintah tetapi keluarga. Kalau tidak bisa, anak tersebut diasuh di panti asuhan. Panti asuhan ini menjadi pengasuhan alternatif.

Penanya 4
Saya ingin bertanya antara relasi guru dengan siswa. Saya juga tertarik dari faktor psikologis guru terhadap siswa. Bagaimana tanggapan KPAI dan apakah ada kerja sama dengan kemendikbud?
Kekerasan fisik bukanlah kekerasan yang paling tinggi. Tapi yang cukup berbahaya justru kekerasan verbal dan psikis. Karena fokus KPAI pada kekerasan, jadi butuh beberapa hal untuk mengassessment. Ini adalah perlunya kerja sama dengan kemendikbud. Perlu adanya pendekatan-pendekatan strategis melalui pelatihan dan advokasi. Kami juga berdiskusi dengan kemenristekdikti untuk memunculkan pendidikan tentang kekerasan anak.
Banyak kegiatan anak yang beralih ke sosial media yang lebih mengarah pada verbal dan chattingan yang membuka adanya kekerasan verbal dan psikis. Lalu bagaimana mengatasinya?
Penggunaan gadget harus diatur. Konteksnya mengatur.

PENUTUP
Jangan lupa tentang isu anak karena anak menjadi generasi penerus. Mahasiswa yang memiliki peran lebih ke masyarakat, sangat memiliki posisi sentral dan perlu adanya pendidikan di tingkat perguruan tinggi tentang anak.

SebelumnyaReforma Agraria: Pandangan Islam terhadap Masalah Kontemporer dalam Mewujudkan Kedamaian Hidup Bernegara SesudahnyaEkonomi Syariah : Pondasi Ekonomi Umat Islam
Membangun Kewibawaan Intelektual dengan Mempererat Persahabatan pada Literasi
  KABUMA #18 Minggu, 03 Juni 2018 Pukul 15.45 – 17.30 WIB Habiburrahman El-Shirazy, Lc., M.A., Pg.D “Membangun Kewibawaan Intelektual dengan Mempererat Persahabatan pada Literasi” Notulis oleh Hanifah Makarim  ...
Mewujudkan Pengembangan Bioetika di Indonesia
KABUMA #19 Senin, 4 Juni 2018 16.57 WIB s.d 17.28 WIB Dr. Nur Azid Mahardinata “Mewujudkan Pengembangan Bioetika di Indonesia” Notulis oleh Latifa Sakti Bintari Pembukaan: Gambaran mengenai bioetika dimulai...
Positive Parenting: Keluarga sebagai Pondasi Awal Kebermartabatan Indonesia
SAMUDRA #20 Selasa, 5 Juni 2018 Pukul 16.30 – 17.30 WIB Ust. Fauzi Adhim “Positive Parenting: Keluarga sebagai Pondasi Awal Kebermartabatan Indonesia” Notulensi oleh Cindy Nurmala MATERI Kita memiliki tanggung...
Mewujudkan Kepemimpinan Keilmuan melalui Sinergitas Ilmu dan Islam: Kilas Balik terhadap Dinasti Abbasiyah
KABUMA #17 Sabtu, 2 Juni 2018 16.00 s.d. 17.15 Dr. Tiar Anwar Bachtiar “Mewujudkan Kepemimpinan Keilmuan melalui Sinergitas Ilmu dan Islam: Kilas Balik terhadap Dinasti Abbasiyah” Notulis oleh Amania Ittaqo...
Ekonomi Syariah : Pondasi Ekonomi Umat Islam
KABUMA #16 Jum’at, 1 Juni 2018 16.57 WIB s.d 17.28 WIB Ir. Adiwarman Azwar Karim, S.EE., M.B.A., M.A.E.P. “Ekonomi Syariah : Pondasi Ekonomi Umat Islam” Notulis oleh Latifa Sakti Bintari...
Kewibawaan Ilmu Pengetahuan dalam Keilmuan Islam
KABUMA #15 Kamis, 31 Mei 2018 15.45 s.d. 17.15 Dr. Susanto, M.A. “Kewibawaan Ilmu Pengetahuan dalam Keilmuan Islam” Notulis oleh Dwi Ratnaningtyas MATERI Kenapa anak butuh kreatif? Apakah ada permasalahan...


WhatsApp chat