Kajian Ilmiah Pengobatan di Zaman Rasulullah

“Bahkan penyakit AIDS pun sesungguhnya ada obatnya.” – Prof. Dr. Abdul Rohman M.Si., Apt.

Pernyataan itu tentunya mengguncang peserta yang hadir dalam Samudra RDK 1438 H. Penyakit sendiri terdiri dari penyakit rohani dan jasmani yang semuanya memiliki obat. Segala macam jenis penyakit tersebut, terutama yang jasmani, perlu diteliti lebih lanjut bagaimana pengobatannya, walaupun sudah dicantumkan dalam Al-Qur’an.

Samudra RDK 1438 H yang diselenggarakan pada 05 Juni 2017 diawali dengan bacaan Al-Qur’an yang merdu. Lantai satu Masjid Kampus UGM pun mulai dipenuhi oleh insan-insan yang ingin mendapatkan ilmu dan ridho Allah swt. Tema Samudra kali ini adalah “Implementasi Metode Pengobatan Nabi: Kajian Ilmiah di Era Sekarang” yang akan dibawakan oleh Prof. Dr. Abdul Rohman M.Si., Apt yang merupakan dosen dari Fakultas Farmasi UGM.

  1. Definisi penyakit

Apa itu sakit? Sakit merupakan suatu kondisi tidak normalnya organ di dalam tubuh yang dapat menimbulkan rasa sakit yang dapat mengancam keberlangsungan kehidupan orang yang menderita. Contohnya adalah penyakit kanker. Kanker merupakan penyakit yang disebabkan karena pertumbuhan sel tidak terkendali, yang akhirnya menekan organ-organ di sekitarnya sehingga orang yang menderita menjadi sakit.

  1. Jenis-jenis penyakit

Menurut Ibnu Qayymin Al Jauziyyah, penyakit dibedakan menjadi dua jenis. Pertama adalah penyakit hati atau rohani, seperti riya’, dengki, dan sombong. Penyakit jenis ini diobati dengan cara memperbanyak dzikir kepada Allah. Kedua adalah penyakit jasmani, seperti panas, kanker, dan lain sebagainya.

Pengobatan dari penyakit jasmani ada dua jenis:

  • Pengobatan langsung dari Allah

Contoh dari pengobatan ini adalah saat kita merasa lapar dan haus. Saat merasakan kedua hal tersebut, tubuh kita juga merasakan sakit. Namun, kedua hal tersebut dapat kita ketahui secara pasti apa obatnya, yaitu dengan makan dan minum.

  • Pengobatan yang membutuhkan diagnosis

Semisal, kita merasa panas. Panas sendiri dapat berasal dari sengatan matahari atau bisa juga disebabkan oleh infeksi dari dalam tubuh. Nah, untuk mengetahui panas kita disebabkan karena apa, maka kita perlu diagnosis dari seorang dokter.

  1. Tiga dasar pengobatan

Dasar pengobatan yang pertama adalah dengan melakukan tindakan preventif. Supaya tidak terkena penyakit, maka kita harus menjaga kesehatan kita sendiri.

# Mencegah masuknya zat-zat yang berbahaya di dalam tubuh

Hal ini sangat relevan dengan puasa karena puasa adalah tidak makan dan minum dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Dengan puasa, kita setidaknya mengurangi banyaknya makanan yang masuk ke dalam tubuh.

#Apabila bahan tersebut telah masuk ke dalam tubuh, maka harus segera dikeluarkan

  1. Prinsip pengobatan

#Berobat itu wajib

Prof. Dr. Abdul Rohman M.Si., Apt menyampaikan bahwa kita tidak boleh pasrah saja dan menunggu Allah menyembuhkan penyakit kita tanpa ada ikhtiar atau usaha. Berobat merupakan salah satu ikhtiar untuk mencapai kesembuhan, bukannya hanya diam dan menunggu kesembuhan itu datang sendiri. Walaupun begitu, kita tetap harus meyakini bahwa Allah-lah yang menyembuhkan kita dan obat hanyalah perantara.

#Setiap penyakit ada obatnya

Segala macam jenis penyakit, baik itu rohani maupun jasmani, akan ada obat untuk menyembuhkannya. Entah itu obat sintetik, kimiawi, alami, atau dengan cara menghindari sesuatu. Hal itu merupakan jaminan dari Nabi Muhammad SAW. Bahkan penyakit AIDS yang dikatakan belum ada obatnya, sesungguhnya memiliki obat, yaitu dengan cara menghindari hal-hal yang dapat menimbulkannya.

#Tidak ada obat yang terbuat dari hal-hal yang haram

  1. Dalil-dalil tentang pengobatan

#Bersumber dari Al-Qur’an

  • Apabila melihat orang sakit, maka tolonglah karena pahalanya seakan-akan menolong seluruh orang yang ada di bumi.
  • Barang-barang yang haram tidak boleh digunakan untuk makanan maupun obat. Contoh, khamr yang berfungsi untuk menghangatkan badan. Walaupun memiliki khasiat sebagai obat, hal itu tetap tidak diperbolehkan karena khamr merupakan sesuatu yang haram.
  • Dilarang menjatuhkan diri dalam kebinasaan. Hal ini merupakan dasar bagi kita untuk berobat karena tidak boleh membahayakan diri sendiri dengan diam saja dan tidak berobat.
  • Meyakini bahwa sesungguhnya yang mengangkat penyakit kita tetap Allah swt, obat hanyalah perantara.

#Bersumber dari Al-Hadist

  • Allah tidak akan menurunkan suatu penyakit kecuali Allah menurunkan juga obatnya. Allah menurunkan obat untuk suatu segala macam jenis penyakit, kecuali lupa. Lupa dapat diartikan sebagai suatu tanda penuaan. Manusia tidak dapat menghindari penuaan, yang bisa hanya mencegah penuaan tersebut.
  • Obat juga tidak akan berasal dari suatu yang haram. Contohnya adalah khamr atau sesuatu yang memabukkan. Di dalam khamr memang ada manfaatnya, tetapi bahayanya lebih banyak daripada manfaatnya.
  • Silakan berobat, tetapi jangan berobat dengan yang haram.
  • Tidak boleh mencelakakan diri sendiri dan orang lain.
  1. Kaidah fiqih
  • Apa pun bentuk kemelaratan dan bahaya harus dihilangkan.
  • Mencegah lebih baik daripada mengobati.
  • Dalam keadaan darurat, segala sesuatu yang haram diperbolehkan. Namun ada dua syarat untuk hal tersebut. Pertama adalah tidak ada alternatif obat selain yang haram tadi. Kedua adalah hal tersebut memang anjuran dari dokter yang kompeten di bidangnya. Sekali lagi, hal ini hanya berlaku dalam keadaan darurat.

#Kitab Tibbun Nabawi

Kitab Tibbun Nabawi merupakan kitab karya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Dalam kitab ini dijelaskan hal-hal yang telah dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW yang berkhasiat sebagai obat. Dalam kitab ini hanya dijelaskan bahan-bahannya saja. Untuk bagaimana cara penggunaannya, dosis, dan lain-lain, harus diteliti lebih lanjut.
1. Air

Penyakit panas disembuhkan dengan air. Tentunya, apabila kita hanya mengambil makna kalimat ini mentah-mentah, segala macam penyakit panas akan disembuhkan dengan air. Padahal, panas yang dimaksud adalah panas karena sengatan sinar matahari. Dan memang benar untuk penyakit panas yang seperti itu disembuhkan dengan cara menyiram dengan air. Untuk penyakit panas karena hal lain, seperti infeksi, tidak diobati dengan cara disiram air.

2. Madu

Madu merupakan sesuatu yang memiliki banyak khasiat. Tetapi, madu memiliki banyak warna dan jenis. Perlu penelitian lebih lanjut lagi madu yang mana yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit. Memang benar madu berkhasiat, namun harus diolah dahulu dan diteliti berapa dosisnya.

Setelah diteliti, ternyata madu mengandung senyawa-senyawa fenolik yang menunjukkan aktivitas antibakteri, salah satunya terhadap bakteri yang menyebabkan diare, dan dapat membunuhnya juga. Madu juga mengandung banyak senyawa antioksidan dan dapat meningkatkan respon imun.

3. Jinten hitam

Nabi bersabda, “Jinten hitam itu adalah suatu obat dari setiap penyakit, kecuali penyakit mati.” Jika sabda ini ditelan mentah-mentah, maka kita akan selalu menyembuhkan penyakit dengan jinten hitam. Padahal harus diteliti lagi seberapa dan apa yang dimanfaatkan dari jinten hitam tersebut. Memang benar dapat menyembuhkan segala macam jenis penyakit, tetapi harus diketahui dulu seberapa dosisnya dan bagaimana mengolahnya.

4. Minyak zaitun

Nabi bersabda, “Makan dan berminyaklah dari buah zaitun karena ia berasal dari pohon yang diberkati.” Minyak zaitun memiliki khasiat untuk mengobati radang. Setelah diteliti, ternyata minyak zaitun mengandung suatu bahan yang sangat efektif untuk penyakit radang.

-Penjelasan mengenai penyakit istisqa’ dan diare

Istisqa’ merupakan suatu bentuk penyakit di mana terjadi pembengkakkan dalam tubuh karena cairan yang menumpuk. Di zaman Nabi sendiri, penyakit ini telah terjadi dan Nabi mengobatinya dengan cara menyuruh orang yang sakit dengan meminum susu unta dan air kencing unta. Setelah diteliti ternyata susu unta memiliki efek laksatik dan bekerja seperti obat pencahar yang dapat membantu pengeluaran cairan dalam tubuh, sedangkan air kencing unta membantu lancarnya pengeluaran air seni, sehingga cairan yang menumpuk di dalam tubuh tadi dapat dikeluarkan.

Diare di zaman Nabi Muhammad SAW diobati dengan meminum madu hingga tiga kali.

Itulah penjelasan dari Prof. Dr. Abdul Rohman M.Si., Apt mengenai kajian ilmiah pengobatan di zaman Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya segala hal tersebut telah dicantumkan dalam Al-Qur’an dan disampaikan oleh Nabi sendiri dan kebenaran itu bersifat mutlak adanya. Namun, kita tidak bisa menelan mentah-mentah hal tersebut, perlu ada penelitian lebih lanjut untuk mengolahnya menjadi lebih baik.


[Thiara]

Bagikan: