SEKILAS INFO
  • 8 bulan yang lalu - KETENTUAN PESERTA NASYID DAN MTQ (MUSABAQAH TILAWATIL QUR’AN) FESTIVAL CENDEKIA MUSLIM RAMADHAN DI KAMPUS 1439 H UNIVERSITAS GADJAH MADA (cek dibagian pengumuman)
  • 8 bulan yang lalu - PENGUMUMAN LOLOS ABSTRAK LOMBA KARYA TULIS AL-QURAN FESTIVAL CENDEKIA MUSLIM (cek dibagian pengumuman)
  • 10 bulan yang lalu - Pengumuman panitia Ramadhan di Kampus UGM 1439H sudah tersedia, silahkan cek di laman pengumuman kami atau buka ugm.id/panitiardk39
WAKTU :

WAKTU SHALAT, Sabtu, 15 12 2018 Desember 2018 >

IMSYAK 04:01
SUBUH 04:15
DZUHUR 11:46
ASHAR 15:06
MAGHRIB 17:56
ISYA 18:55
Diterbitkan :
Kategori : Cerpen / Update

Bagaimana Jurusanku Berperan

“Pelajarilah Bahasa Arab, karena itu adalah bagian dari agamamu.” (Umar bin Khattab)

“Al-Faatihaah..”, suara yang terdengar lirih dan lemah, milik Bapak Kyai di Pesantren, yang kemudian dilanjut gerakan-gerakan bibir para santri, pertanda ngaji Maghrib telah usai. Judulnya “Busyro”, isinya mengkaji sejarah Siti Khadijah; buku yang selalu dikaji santri di waktu maghrib pada bulan suci Ramadhan.

***

Panggil saja Nizar, umurku 18 tahun, dan ini adalah Ramadhan pertamaku di Jogja. Angkringan, burjo, dan pesantren kerap kali menjadi tempat santapan di malam hari. Sementara pagi hingga sore? Soal-soal Ujian Akhir Semester (UAS) adalah santapanku selama kurang lebih 2 minggu, mengingat UAS dan Ramdhan bertemu bersama di tahun ini.

Walaupun orangnya satu, tapi statusku ganda; pelajar di 2 tempat, perkuliahan dan pesantren. Selain menjadi santri di Pesantren Al-Barokah, aku berkuliah di jurusan Sastra Arab, Universitas Gadjah Mada. Mungkin, kebanyakan orang luar akan berfikir, “memangnya, ada jurusan Sastra Arab di UGM?”

Dulu, aku juga sama kagetnya ketika melihat ada jurusan Sastra Arab di kampus ini, yang ternyata angin takdir yang menghembuskanku ke sini juga. Dunia Arab selalu bergandengan erat dengan dunia Islam. Maka, jika orang berfikir bahwa Sastra Arab adalah jurusan yang hanya tersedia di Universitas Islam, bukan di kampus umum seperti UGM, maka itu adalah hal yang wajar.

***

Sejenak pengajian Busyro terhenti karena lantuna adzan. Namun, kami para santri tidak langsung bergegas menuju masjid, tapi melanjutkan aktivitas kajian hingga hampir selesai jamaah tarawih di masjid. Apa kami tidak tarawih? Tentu saja Tarawih. Hanya saja, kami bergantian dalam memakai masjid. Selain karena kapasitas masjid yang kurang bisa menampung keseluruhan santri, tapi juga bilangan rakaat tarawih yang kami lakukan juga berbeda, dan inilah alasan yang terkuat. Yang pertama 8 rakaat, dan yang kami lakukan adalah 20 rakaat. Saya kira, hal seperti ini adalah contoh toleransi yang baik, patut dicontoh, dan diterapkan di Indonesia sebagai negara yang masyarakatnya majemuk, demi menghindari perpecahan dan permusuhan dari rahim perbedaan.

Setelah tarawih, aktivitas yang aku dan santri lainnya lakukan adalah aktivitas Ramadhan seperti bagaimana lazminya; tadarus Al-Qur’an. HIngga kira-kira mendekati tengah malam, barulah kami menghentikan tadarus. Selanjutnya adalah istirahat agar bisa bangun sahur, jama’ah subuh, dan lanjut mengkaji kitab lagi setelah subuh, hingga aktivitas perkuliahan di pagi hari; dalam hal ini adalah menghadapi UAS.

Dalam sehari, ada 3 kitab yang dikaji dalam pesantren tempatku berada, yang kesemuanya berbahasa Arab. Tentunya, jika ingin memahami secara mendalam, dibutuhkan juga pengetahuan akan Bahasa Arab. Di saat seperti inilah, aku menjadi semakin sadar bahwasanya jurusan Sastra Arab ini sangat berguna. Ketika ustad di pesantren atau Bapak Kyai mulai mengkaji pun, terkadang aku mencoba untuk menerka-nerka makna dari kata per kata hingga ke tingkat kalimat. Alhamudulillah,ada beberapa makna yang sesuai, walaupun banyak salahnya juga sih, namanya juga belajar.

Ada satu lagi manfaat penting  yang kudapat, khususnya dalam hal penerjemahan karya berbahasa Arab. Aku menyadari bahwa pemahaman yang didapat dari kitab yang dikaji, dengan disertai dasar Bahasa Arab yang walaupun pas-pasan, itu lebih baik ketimbang membaca terjemahannya secara langsung. Secara umum, ada 2 alasan.

Pertama, rasa (adz-dzauq) yang muncul karena pemahaman akan Bahasa Arab lebih kentara. Misalnya saja, ketika anda berdoa  dengan Bahasa Arab. Pasti penghayatan yang timbul akan lebih membekas daripada tidak memahami akan Bahasa Arabnya.

Kedua, dengan memahami Bahasa Arab, kita dapat menemukan mengapa kalimat ini bermakna demikian, mengapa bisa berubah demikian, dan mengapa berbeda makna ketika diterjemahkan per kata. Sederhananya, coba anda terjemahkan suatu kalimat berbahasa Arab melalui “Google Translate”. Sering kali, susunan kalimatnya akan berantakan. Hal ini terjadi karena ‘Google Translate” menerjemahkan kata per kata. Kalau ingin pemahamannya sesuai, maka kita juga harus tahu hubungan kata dalam kalimat, konteks kalimat, dan sisi-sisi lainnya. Intinya, Bahasa Arab adalah sebuah alat untuk memahami karya-karya berbahasa Arab, khususnya dalam bingkai Islam, baik yang ada di Al-Qur’an, As-Sunnah, maupun karya-karya ulama’.

Alhamdulillah, Allah telah mengizinkanku untuk berada di jurusan Sastra Arab ini. Sungguh, banyak sekali manfaat yang terasa. Kalau soal peran, untuk lingkup kecil maka itu akan sangat berguna pribadi masing-masing, terkhusus ketika memahami dalil-dalil islami yang serat akan Bahasa Arab. Juga berguna sebagai tameng agar diri kita tidak tertipu akan terjemahan yang ternyata melenceng. Aku pernah berfikir, bagaimana jadinya bila aku tak belajar Bahasa Arab, kemudian ada terjemahan karya islami yang ternyata telah diubah karena kepentingan pihak tertentu, pasti kesesatan sudah menungguku di depan. Ibarat naik gunung, kalau kita tak memahami rute, medan, dan cara melewatinya, maka siap-siap saja kalau ternyata tidak akan naik ke puncak, malah jatuh ke jurang yang dalam.

Kalau soal peran besar, tetunya jurusan seperti ini punya banyak sekali manfaat. Aku berani mengatakan, keadaan Indonesia yang masyarakat muslimya terbanyak di dunia tidak lepas dari peran mereka-mereka yang sudah mempelajari Bahasa Arab, memahaminya, dan menyebarkan ilmu dari karya islami berbahasa Arab pada masyarakat lain yang masih awam.

Jadi, yuk pelajari Bahasa Arab. Jadilah bagian dari mereka yang berperan penting bagi bangsa ini.

SebelumnyaTausiyah Ramadhan Bersama DR. (HC). Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., MA. SesudahnyaDistorsi Sejarah Islam
Membangun Kewibawaan Intelektual dengan Mempererat Persahabatan pada Literasi
  KABUMA #18 Minggu, 03 Juni 2018 Pukul 15.45 – 17.30 WIB Habiburrahman El-Shirazy, Lc., M.A., Pg.D “Membangun Kewibawaan Intelektual dengan Mempererat Persahabatan pada Literasi” Notulis oleh Hanifah Makarim  ...
Mewujudkan Pengembangan Bioetika di Indonesia
KABUMA #19 Senin, 4 Juni 2018 16.57 WIB s.d 17.28 WIB Dr. Nur Azid Mahardinata “Mewujudkan Pengembangan Bioetika di Indonesia” Notulis oleh Latifa Sakti Bintari Pembukaan: Gambaran mengenai bioetika dimulai...
Positive Parenting: Keluarga sebagai Pondasi Awal Kebermartabatan Indonesia
SAMUDRA #20 Selasa, 5 Juni 2018 Pukul 16.30 – 17.30 WIB Ust. Fauzi Adhim “Positive Parenting: Keluarga sebagai Pondasi Awal Kebermartabatan Indonesia” Notulensi oleh Cindy Nurmala MATERI Kita memiliki tanggung...
Mewujudkan Kepemimpinan Keilmuan melalui Sinergitas Ilmu dan Islam: Kilas Balik terhadap Dinasti Abbasiyah
KABUMA #17 Sabtu, 2 Juni 2018 16.00 s.d. 17.15 Dr. Tiar Anwar Bachtiar “Mewujudkan Kepemimpinan Keilmuan melalui Sinergitas Ilmu dan Islam: Kilas Balik terhadap Dinasti Abbasiyah” Notulis oleh Amania Ittaqo...
Ekonomi Syariah : Pondasi Ekonomi Umat Islam
KABUMA #16 Jum’at, 1 Juni 2018 16.57 WIB s.d 17.28 WIB Ir. Adiwarman Azwar Karim, S.EE., M.B.A., M.A.E.P. “Ekonomi Syariah : Pondasi Ekonomi Umat Islam” Notulis oleh Latifa Sakti Bintari...
Kewibawaan Ilmu Pengetahuan dalam Keilmuan Islam
KABUMA #15 Kamis, 31 Mei 2018 15.45 s.d. 17.15 Dr. Susanto, M.A. “Kewibawaan Ilmu Pengetahuan dalam Keilmuan Islam” Notulis oleh Dwi Ratnaningtyas MATERI Kenapa anak butuh kreatif? Apakah ada permasalahan...


WhatsApp chat