Ibadahmu Sia-Sia Karena Landasan Hukum Keliru: Hadis Lemah Seputar Puasa

 

“Jangan sampai ibadah kita sia-sia dan tidak sempurna karena kita kurang teliti dalam menghadapi puasa. Jangan sampai pula ibadah kita tertolak karena tidak tahu hukum-hukumnya.” – Ustaz Andi Alief, Lc.

Puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah wajib yang diperintah secara langsung oleh Allah swt. seperti yang disebut dalam surah Al-Baqarah ayat 183.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Kewajiban yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah ditujukan kepada sembarang orang, melainkan hanya kepada orang-orang beriman yang mana mereka telah siap menjalankan apa saja yang ada di belakang ayat tersebut.

Selain kewajiban untuk berpuasa, bulan Ramadhan juga merupakan bulan yang dipenuhi dengan rahmat Allah. Di dalamnya terdapat  keberkahan dan ampunan kepada setiap orang yang menjalankannya dengan penuh keikhlasan. Untuk itu, sudah selayaknya kita memanfaatkan bulan ini dengan sebaik mungkin. Terlebih lagi dalam hal ibadah. Jangan sampai ibadah kita tertolak hanya karena kita tidak tahu hukum-hukumnya.

Al-Qur’an dan hadis dikenal sebagai dasar hukum utama agama Islam. Keduanya mempunyai peran penting dalam menuntun umat Islam untuk menjalankan ibadah, salah satunya ibadah puasa. Jika Al-Qur’an sudah tentu pasti menjadi rujukan pertama, maka hadis digunakan sebagai rujukan kedua setelah Al-Qur’an. Namun sayangnya, pengetahuan masyarakat tentang hadis ini sangat terbatas. Banyak sekali dijumpai hadis-hadis dha’if bahkan palsu yang beredar di masyarakat, bahkan sampai diyakini menjadi landasan atau dasar hukum untuk beribadah, terlebih ibadah di bulan Ramadhan.

Sebelum beranjak ke pembahasan mengenai apa saja hadis-hadis dha’if atau palsu yang beredar di masyarakat, alangkah baiknya jika kita mengetahui definisi dari hadis itu sendiri. Hadis adalah apa saja (bisa berupa perkataan, perbuatan, dan sikap) yang bersumber dari Rasulullah dan dijadikan sebagai rujukan hukum bagi umat Islam.

Hadis terbagi menjadi tiga tingkatan.

  1. Hadis shahih, merupakan landasan hukum paling tinggi dari hadis karena ketatnya syarat yang menyertai. Hadis ini menjadi sumber hukum untuk bersikap setelah Al-Qur’an. Bahkan ada yang mengatakan bahwa hadis ini memang benar-benar berasal dari Rasul.
  2. Hadis hasan, Hadis ini juga digunakan sebagai landasan hukum, tetapi apabila bertentangan dengan hadis shahih, maka yang digunakan untuk landasan hukum adalah hadis shahih.
  3. Hadis Dha’if (lemah), merupakan hadis yang kehilangan sifat-sifat dari kedua macam hadis di atas. Hadis ini tidak bisa dijadikan hujjah kecuali dengan syarat-syarat tertentu. Hadis dha’if ini ada banyak macamnya, salah satunya adalah hadis maudhu’ atau hadis palsu yang benar-benar bukan berasal dari Rasul.

Terbaginya hadis menjadi beberapa macam membuat kita harus mampu menyikapinya dengan bijak. Untuk hadis shahih dan hasan, umat Islam harus menjalankan apa yang diperintah dan menjauhi larangan yang ada di dalamnya karena itu bernilai pahala, sedangkan untuk hadis dha’if, baiknya tidak meyakini dan menjadikannya sebagai landasan hukum karena kebenaran datangnya dari Rasul saja masih diragukan.

Di awal tadi sudah disinggung mengenai banyaknya hadis dha’if dan hadis palsu yang dijadikan landasan hukum bagi kebanyakan masyarakat. Hal itu dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang hadis. Untuk itu, Ustaz Andi Alief, Lc. dalam kajian Samudra RDK 1438 H selasa (06/06) kemarin memberi sedikit ulasan beberapa contoh hadis-hadis dha’if, bahkan palsu, yang diyakini dan dijalankan umat Islam sebagai landasan hukum untuk beribadah, lebih khusus pada hal yang menyangkut bulan Ramadhan. Hadis-hadis tersebut adalah:

  1. Hadis berbuka puasa

“Biasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika berbuka membaca doa, Allahumma laka shumtu wa aalaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dengan rezeki-Mu aku berbuka, maka terimalah puasaku ini, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).”

Kebanyakan dari umat Islam di Indonesia pasti pernah mendengar doa itu. Bahkan sebagian besar dari mereka saat berbuka selalu menggunakan doa tersebut. Perlu diketahui bahwa hadis di atas adalah hadis dha’if. Hadis tersebut tidak ada satu pun yang ditemukan pada kitab-kitab hadis shahih dan hasan.

Lalu bagaimana doa berbuka yang sebenarnya diajarkan Rasulullah? Berikut adalah hadis shahih berisi tentang doa berbuka yang biasanya dilakukan Rasul.

“Biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam jika berbuka beliau berdoa, “dzahabazh zhama’u wabtallatil’uruuqu wa tsabatal ajru insyaallah (telah hilang rasa haus, telah basah kerongkongan, dan telah diraih pahala insyaallah).”

  1. Pahala tidur bagi orang yang berpuasa

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Doanya adalah doa yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.”

Ternyata hadis tersebut adalah hadis dha’if. Salah satu alasan mengapa hadis dha’if selain perawinya yang sanadnya kurang terpercaya, juga karena hal tersebut bertentangan dengan ushul fikih. Dalam kitab fikih manapun tidak ditemukan hukum bahwa tidur itu adalah sunah. Dalam kitab fikih yang ada, justru menjelaskan bahwa hukum tidur itu adalah mubah atau boleh. Itu berarti tidak memiliki nilai pahala dikerjakan maupun tidak dikerjakan. Namun hal itu berbeda jika kita kaitkan dengan konteks yang berbeda. Tidur baru bisa menjadi ibadah jika kita memang mempunyai niat tidur untuk bisa melakukan kegiatan ibadah dengan lebih baik atau lebih segar lagi.

  1. Berpuasa membuat badan sehat

“Berpuasalah, maka kalian akan sehat.“

Meskipun dalam penelitian telah ditemukan bahwa puasa dapat membuat tubuh menjadi sehat, namun ternyata hadis di atas adalah hadis yang lemah. Hal itu karena tidak ditemukan satu pun hadis tersebut dalam kitab-kitab hadis shahih maupun hadis hasan.

  1. Jangan disebut Ramadhan

“Jangan menyebut dengan ‘Ramadhan’ karena ia adalah salah satu nama Allah, namun sebutlah dengan bulan Ramadhan.”

Hadis di atas adalah hadis dha’if. Jumhur ulama pun juga berpendapat bahwa menyebut hanya “Ramadhan” diperbolehkan meskipun tanpa kata “syahru”. Hal itu dikarenakan banyak hadis yang juga menyebutnya tanpa kata “syahru”.

  1. Tidak diterimanya amal ibadah puasa sebelum bayar zakat fitri

“Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali zakat fitri.”

Hadis di atas di-dha’if-kan dalam Dha’if At Targhib. Selain itu, perlu diketahui juga ibadah puasa dengan zakat fitri merupakan jenis ibadah yang berbeda meskipun sama-sama dilaksanakan di bulan Ramadhan, sehingga tidak ada kaitannya diterima atau tidak pahala antara kedua ibadah tersebut. Yang sudah pasti jelas hukumnya, kedua ibadah tersebut merupakan ibadah wajib. Jika ada salah satu atau kedua tidak dilakukan maka seseorang akan terkena dosa.

  1. Ucapan Taqobballahu Minna Wa Minkum

“Wa’ilah berkata, “Aku bertemu dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Ied, lalu aku berkata: “Taqabbalallahu minna wa minka” Beliau bersabda: “Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.”

Hadis di atas adalah hadis dha’if menurut Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhuafa . Bahkan ada yang mengatakan bahwa itu bukan hadis karena tidak ada riwayat yang menyatakan demikian. Menurut sebagian ulama, ucapan Taqabbalallahu minna wa minka sebenarnya merupakan perkataan yang para sahabat yang mereka ucapkan kepada satu sama lain ketika hari kemenangan tiba.

Demikianlah di atas sedikit uraian tentang hadis dan beberapa contoh hadis dha’if bahkan palsu yang sering kita jumpai bahkan yakini dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dalam bulan Ramadhan. Untuk itu, jika ilmu telah bertambah, maka janganlah lupa untuk senantiasa memperbaiki niat dan ibadah kita. Sebagai penutup ada pekikan petuah dari Ustaz Andi Alief kemarin. Mari kita renungkan sejenak dan mewujudkannya dengan melaksanakannya dalam ibadah Ramadhan ini.

“Berpuasalah kamu layaknya seperti ulat, yang setelahnya dapat bermetamorfosa menjadi kupu-kupu menawan. Namun, janganlah kamu berpuasa seperti ular, yang setelahnya hanya berganti kulit saja tidak berubah menjadi apa-apa.” – Ustaz Andi Alief Lc.

————————————————————————————————————————

[Vina Na]

Bagikan: