Al Quran sebagai Basis Konstruksi Ilmu Pengetahuan

“Perlu kita sadari bahwa berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia hanya mencetak orang-orang yang bekerja sebagai ‘kuli’…” (Agus Purwanto, Penulis Ayat-Ayat Semesta)

Samudra merupakan Safari Ilmu di Bulan Ramadhan yang diselenggarakan panitia Ramadhan Di Kampus Divisi Kajian Buka Bersama (Kabuma). Samudra pada Rabu, 8 Juni 2016 dilaksanakan di Ruang Utama Masjid Kampus UGM pada pukul 16.05 WIB. hingga  17.20 WIB. Tema yang diangkat pada Samudra kali ini adalah Al Quran sebagai Basis Konstruksi Ilmu Pengetahuan dengan pembicara Drs. Agus Purwanto, M.Sc.,D.Sc. Beliau adalah penulis Buku Best Seller “Nalar Ayat-Ayat Semesta”. Sebelum menjadi pembicara Samudra ini, Drs. Agus Purwanto, M.Sc.,D.Sc telah memaparkan materi yang sama di 76 tempat di Indonesia dan Luar Negeri. Acara dipandu oleh Yarabisa Yanuar, mahasiswa Fakultas Teknik UGM angkatan 2014. Sebelum memasuki acara inti berupa ceramah oleh pembicara, acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al Quran yang disampaikan oleh Ridho, mahasiswa jurusan Pengolahan Hasil Pangan UGM angkatan 2011.

Kondisi dunia Islam saat ini belum dapat dikatakan baik. Hal tersebut dibuktikan dengan keadaan seperlima penduduk muslim di dunia yang berstatus miskin dan bodoh. Mayoritas muslim berorientasi tidak dengan akademik (obskurantik) tetapi berorientasi fikih dan esosentris. Jika dibandingkan dengan Negara Maju, mereka berorientasi sepenuhnya dengan akademik. Kemajuan suatu negara tidak terlepas dengan bangsanya yang menguasai sains fundamental.

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia masih mengalami keterbelakangan dibanding dengan negara maju. Kondisi macet yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia sudah menjadi pemandangan yang biasa. Ada dua kemungkinan yang dapat tergambarkan dari kondisi tersebut. Pertama, pendapatan perkapita penduduk Indonesia dapat dikatakan meningkat dengan bayaknya kendaraan pribadi yang dimiliki. Kedua, sifat konsumtif penduduk Indonesia yang tidak terkontrol. Kita selayaknya sedih melihat kondisi Indonesia seperti ini. Alat transportasi yang memenuhi jalanan itu bukanlah produk Indonesia, tetapi berasal dari negara-negara maju seperti Jepang. Indonesia secara tidak langsung memberi keuntungan kepada negara maju dan mengakibaitkan tingkat kemiskinan di Indonesia yang meningkat.

Perlu kita sadari bahwa berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia hanya mencetak orang-orang yang bekerja sebagai “kuli”. Berdasarkan penelitian, publikasi penelitian dosen di 27 Perguruan Tinggi terproduktif di Indonesia setara dengan publikasi penlitian dosen satu universitas kebangsaan di Malaysia. Universitas kebangsaan di Malaysia tersebut bukanlah universitas terbaik di Malaysia. Jadi dapat kita lihat betapa tertinggalnya bangsa Iini di bidang ilmu pengetahuan. Marilah kita bersama-sama membawa perubahan!

Pada prinsipnya, jika suatu bangsa ingin menjadi bangsa yang maju maka harus dikembangkan sains dan teknologi. Namun pada waktu yang bersamaan muncul beberapa permasalahan yang melanda negara maju diantaranya masalah nuklir, bocornya PLTN,kehidupan dugem di kota-kota besar, masyarakat mengindap penyakit alianasi (merasa kesepian di tengah hiruk pikuk keramaian) merebaknya kasus bunuh diri, meningkatnya kasus human trafficking. Inilah gambaran masyarakat modern saat ini. Jepang yang kita kenal sebagai negara maju dengan berbagai inovasi teknologi dan informasi bahkan dalam setiap aspek kehidupan ternyata mempunyai permasalahan yang besar di bidang akhlak. Berdasarkan penelitian salah satu majalah di Jepang pada tahun 2000 menyatakan bahwa 90% wanita menikah dengan kondisi tidak virgin.

Jika ingin membangun perkembangan ilmu pengetahuan hendaknya menghadirkan Allah dalam setiap langkah. Begitupula dengan Al Quran sebagai pedoman hidup bagi setiap muslim harus dijadikan pedoman dalam ilmu pengetahuan. Namun hal tersebut belum terlaksana. Salah satu contoh kecil tersebut adalah penyataan tentang materi dalam ilmu Fisika. ‘Materi akan terus tercipta tetapi tidak akan pernah habis’. Pernyataan tersebut secara tersirat bermakna mengkafirkan Allah. Seorang muslim hendaknya wajib mengimani adanya hari akhir. Kiamat yang terjadi akan mematikan semua yang ada di bumi atas izin Allah. Jadi materi tidak akan bertahan.

Contoh kedua adalah Hukum Newton yang  berbunyi “Benda akan diam atau terus bergerak dalam lintasan garis lurus dengan laju konstan jika dalam benda tersebut tidak ada gangguan atau gaya di lintasan garis lurus”. Garis lurus jika dibandingkan dengan garis-garis yang dihubungkan dengan titik yang sama dengan garis lurus akan terlihat bahwa garis lurus merupakan garis terpendek. Jika kita bandingkan dengan makna jalan lurus yang terdapat dalam Quran Surah Al Fatihah, maka jalan lurus tersebut bermakna posisi yang paling benar. Jadi ketika kita menyampaikan materi Hukum I Newton lalu kita kaitkan dengan Al Quran makan akan terjadi transenden, tidak hanya berkutik dengan duniawi.

Sebagai penutup, Bapak Agus menyampaikan pesan kepada jama’ah, “Yang terpenting adalah marilah kita merubah cara berpikir kita. Jangan kita cari Al Quran untuk mencocok-cocokkan dengan teori yang ada, kalau dulu kita menempatkan Ayat sebagai subordinat, maka kita harus jadikan ayat Al Quran, kita analisa lalu kita cari gagasan apa yang terdapat ayat tersebut.” Beliau menyarankan agar pelajaran Bahasa Arab harus masuk dalam kurikulum pendidikan karena jika kita tidak paham bahasa Arab maka akan kesulitan dalam mencari segala hal yang ada di Al Quran.

Selama ini yang kita pahami ulama adalah yang paham tentang ilmu agama, sosial. Jika merujuk pada Quran Surah Fatir ayat 27, ulama juga mempunyai makna yang paham dengan hukum alam. Jadi ulama sesungguhnya yang paham terhadap hukum sosial, hukum agama, dan hukum alam. Namun hukum alam  masih jarang diuangkapkan. Jika kita sudah memahami pengertian ulama dengan benar, maka Allah akan mengangkat kita karena Iman dan Ilmu. Perlu dipikirkan bahwa bagaimana Allah mengangkat derajat kita jika iman kita tanggung dan tidak punya ilmu?

Bagikan: